Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) Biokompleks dan Kalium Fosfat terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terong Asam (Solanum ferox L.)
Abstract
Produktivitas tanaman terong akan meningkat jika nutrisi yang dibutuhkan tanaman tersedia dalam jumlah yang mencukupi, hal ini dapat diperoleh dengan pemupukan menggunakan bahan organik seperti pupuk kandang dan kompos, serta melakukan pengelolaan pupuk yang tepat dengan menyesuaikan kebutuhan tanaman dan karakteristik tanah, oleh karena itu pupuk biokompleks menjadi alternatif efektif dan efisien dalam budidaya tanaman. Pupuk biokompleks adalah pupuk hayati organik yang mengandung banyaknya unsur hara seperti unsur hara N, unsur hara P dan unsur hara K di karenakan biokomplek mengandung berbagai macam koposisi seperti kotoran kambing, vermikompos, seresah daun, dan kandungan kapur dolomit.
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair (POC) biokompleks dan kalium fosfat terhadap pertumbuhan dan hasil terong asam (Solanum ferox L.). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2023 hingga juli 2024 di lahan pertanian desa Kasembon, Kec. Bululawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dengan ketinggian ± 440 meter dari permukaan laut (mdpl). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial. Faktor pertama yaitu Pemberian Pupuk Organik Cair Biokompleks (B), B0 (tidak diberi pupuk poc biokompleks), B1 (konsentrasi 100 ml/L), B2 (konsentrasi 200 ml/L), B3 (Konsentrasi 300 ml/L) dan Faktor kedua yaitu Pemberian Kalium Fosfat (K), K0 (tidak diberi kalium fosfat) K1 (konsentrasi 2 ml/L) K2 (konsentrasi 4 ml/L), dan K3 (konsentrasi 6 ml/L). Terdapat 16 kombinasi perlakuan, diulang 3(tiga) kali. Data yang telah di peroleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam uji F (ANOVA) dengan taraf 5%. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah bunga, presentase bunga jadi buah, jumlah buah, diameter buah, berat buah pertanaman, berat buah ton/ha, berat berangkasan, analisis klorofil, dan analisis karoten.
Hasil dari penelitian ini pada variabel pertumbuhan terdapat interaksi yang nyata terhadap parameter tinggi tanaman pada umur tanaman 17, 38, dan 59 hari setelah tanam (HST), namun tidak berpengaruh nyata pada umur 80 dan 101 hari setelah tanam (HST), dengan nilai tertinggi 27,01 cm, parameter jumlah daun tidak berpengaruh nyata pada umur 17, 38, 59, dan 80 hari setelah tanam (HST), namun berpengaruh nyata umur 101 hari setelah tanam (HST) dengan nilai tertinggi 54,11 helai, parameter luas daun memberikan interaksi yang nyata pada umur 17 dan 101 hari setelah tanam (HST), namun tidak berpengaruh nyata pada umur 38, 59, 80 hari setelah tanam (HST), dengan nilai tertinggi 3611,80 cm2, sedangkan pada variabel hasil tidak memberikan interaksi yang nyata terhadap parameter jumlah bunga pertanaman pada umur 104 dan 111 hari setelah tanam (HST), akan tetapi berpengaruh nyata pada umur 118, 125, dan132 hari setelah tanam (HST), nilai tertinggi 11,00 tangkai, parameter presentase bunga jadi buah, jumlah buah, diameter buah, berat buah pertanaman, berat buah ton/ha, berat berangkasan dan analisis klorofil, menunjukan bahwa kode perlakuan B2K2 (200 ml/L organik cair (POC) biokompleks dan 4 ml/L kalium fosfat) merupakan perlakuan yang terbaik dibandingkan dengan perlakuan B0K1 (Biokompleks 0 ml/L + kalium fosfat 2 ml/L), namun pada umur 125 hari setelah tanam (HST) perlakuan perlakuan perlakuan B0K0 (Biokompleks 0 ml/L + kalium fosfat 0 ml/L), B0K1 (Biokompleks 0 ml/L + kalium fosfat 2 ml/L), B0K2 (Biokompleks 0 ml/L + kalium fosfat 4 ml/L), B0K3 (Biokompleks 0 ml/L + kalium fosfat 6 ml/L), B1K0 (Biokompleks 100 ml/L + kalium fosfat 0 ml/L), B1K1 (Biokompleks 100 ml/L + kalium fosfat 2 ml/L), B1K2 (Biokompleks 100 ml/L + kalium fosfat 4 ml/L), B1K3 (Biokompleks 100 ml/L + kalium fosfat 6 ml/L), B2K0 (Biokompleks 200 ml/L + kalium fosfat 0 ml/L), B2K1 (Biokompleks 200 ml/L + kalium fosfat 2 ml/L), B2K2 (Biokompleks 200 ml/L + kalium fosfat 4 ml/L), B2K3 (Biokompleks 200 ml/L + kalium fosfat 6 ml/L), B3K0 (Biokompleks 300 ml/L + kalium fosfat 0 ml/L), B3K1 (Biokompleks 300 ml/L + kalium fosfat 2 ml/L), B3K2 (Biokompleks 300 ml/L + kalium fosfat 4 ml/L), B3K3 (Biokompleks 300 ml/L + kalium fosfat 6 ml/L), variabel kualitas total karoten dalam sampel terong asam sebesar 12,59 µg/g, yang menunjukkan terong asam kaya akan beta-karoten dan karotenoid lainnya, dibandingkan dengan buah terong pepino putih 0,17483% dan buah terong pepino ungu 0,25026% b/b (gram/100 gram).
Dosis pupuk organik cair (POC) biokompleks dosis 200 ml/L merupakan dosis perlakuan yang paling terbaik dibandingan dengan dosis 100 ml/L dan 300 ml/L. Pemberian kalium fosfat 4 ml/L menunjukan dosis yang terbaik dibandingkan dengan dosis 2 ml/L dan 6 ml/L kalium fosfat.
Kata Kunci : Aplikasi, Pupuk Organik Cair (POC), Biokompleks, Kalium Fosfat, Pertumbuhan dan Hasil Tanaman, Terong Asam (Solanum ferox L.)
