Pengaruh Jenis Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Alami Berbagai Dosis Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi Caisim (Brassica juncea L.) Varietas Shinta
Abstract
Sawi hijau atau caisim (Brassica juncea L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat digemari masyarakat, selain rasanya yang enak juga mengandung gizi yang cukup banyak, sehingga dapat menjaga kesehatan tubuh, menghilangkan sakit kepala, membersihkan darah, mencegah penuaan dan menurunkan resiko stroke serta banyak kandungan yang lain. (Frisqilayanti et, al., 2021). Berdasarkan analisis data Badan Pusat Statistik (2021), Pada tahun 2020, total panen mencapai 667.473 ton dengan luas panen 63.464 hektar. Produktivitas sayuran sawi meningkat dari 10,28 ton/ha pada tahun 2018 menjadi 10,72 ton/ha pada tahun 2019, namun kembali menurun menjadi 10,52 ton/ha pada tahun 2020.
Zat pengatur tumbuh (ZPT) merupakan senyawa organik bukan hara yang mempengaruhi proses fisiologi suatu tanaman. Zat pengatur tumbuh (ZPT) tanaman yang umum digunakan oleh para petani adalah ZPT sintetis yang harganya relatif mahal di pasaran dan cenderung sulit diperoleh (Kurniati et al., 2017). Sehingga perlu alternatif lain ZPT yang bersumber dari alam dan dapat dimanfaatkan antara lain: ekstrak bawang merah (Tarigan et al., 2017), ekstrak kecambah (Harli & Rasma 2017) dan air kelapa (Lawalata, 2011).
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh interaksi antara macam jenis zat pengatur tumbuh (ZPT) alami dan dosis ZPT untuk pertumbuhan dan hasil tanaman sawi caisim. Perbedaan dosis ZPT diharapkan dapat mengetahui dosis yang tepat dan optimun untuk produktivitas tanaman sawi caisim. Penelitian dilakukan di Lahan petani perumahan Tirtasari, Dau, Kab Malang. Analisis vitamin C di Laboratorium terpadu UNISMA. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2024. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor pertama macam jenis zat pengatur tumbuh (ZPT) alami J = (Tauge, Air Kelapa, Bawang Merah), Faktor dua Dosis ZPT P = (0, 200, 400, 600 ml), Sehingga 12 kombinasi perlakuan, diulang 3 (tiga) kali. Tiap kombinasi perlakuan terdapat 4 tanaman sampel, total populasi sebanyak 144 tanaman. Analisis data menggunakan analisis ragam uji F (ANOVA) dengan taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi nyata antar perlakuan pemberian jenis zat pengatur tumbuh (ZPT) alami dengan berbagai dosis ZPT pada semua variabel pengamatan tanaman sawi caisim, kecuali pada variabel pengamatan kandungan klorofil pada perlakuan J2P2 (Air Kelapa + 200 ml) menunjukan perlakuan terbaik dengan kandungan klorofil sebesar 144,96 spad/unit. Terdapat pengaruh nyata antar perlakuan macam jenis zat pengatur tumbuh (ZPT) alami pada variabel pertumbuhan dimana perlakuan J2 (air kelapa) menunjukan perlakuan terbaik. Pada variabel hasil menunjukan perlakuan J2 (air kelapa) dan J3 (bawang merah) tidak berbeda nyata dan memberikan respon yang lebih baik dibanding J1 (tauge). Terdapat pengaruh nyata antar perlakuan macam dosis ZPT pada variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar total, ekonomis, dan brangkasan tanaman sawi caisim dimana perlakuan P2 (dosis 200 ml) menunjukan perlakuan yang terbaik dan efisien.
