Efisiensi Pupuk Npk Akibat Pemberian Dosis Mol Kotoran Sapi Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Buncis Kenya (Phaseolus Vulgaris, L.)
Abstract
Buncis kenya merupakan salah satu varietas buncis yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena memiliki keunggulan berupa masa panen yang relatif cepat yaitu 45 hari saja sehingga menghemat biaya produksi petani. Selain itu tanaman buncis juga banyak peminat karena merupakan sayuran yang mudah diolah dan tinggi akan kandungan gizinya. Peluang pasar yang tinggi mengharuskan petani untuk lebih meningkatkan produksi tanaman buncis. Salah satu faktor pembatas dalam meningkatkan budidaya buncis adalah pemupukan, jika pemupukan hanya berfokus pada kecepatan produksi dengan menggunakan pupuk anorganik maka kesuburan tanah dan kesehatan lingkungan akan terganggu, sedangkan jika hanya menggunakan pupuk organik maka produksi tanaman akan lama karena penyerapan unsur hara yang relatif lebih lamban jika menggunakan pupuk organik (Rambe, 2014). Maka dari itu kombinasi penggunaan pupuk anorganik dan organik dirasa sangat pas jika diaplikasikan untuk meningkatkan produksi tanaman buncis kenya. Penggunaan pupuk anorganik NPK dan pupuk organik MOL kotoran sapi menjadi pilihan dalam penelitian ini, alasannya pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang dapat meningkatkan ketersediaan unsur makro dalam tanah, yang mana unsur ini sangat diperlukan tanaman untuk pertumbuhannya, sedangkan penyeimbangnya adalah pupuk organik MOL kotoran sapi yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk NPK dan MOL kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis kenya dan untuk mengetahui berapa dosis yang tepat pupuk NPK maupun MOL kotoran sapi untuk tanaman buncis kenya.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2024 sampai bulan september 2024 di lahan Pertanian yang berlokasi di Jl.Joyo Agung, Merjosari, Kecamatan Dau, Kota Malang Jawa Timur. Pada penelitian ini, rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan kontrol. Kontrol adalah dosis rekomendasi pupuk NPK. Faktor pertama ialah dosis pupuk NPK terdapat 4 level perlakuan yaitu: N1 (Dosis NPK 150 kg/ha); N2 (Dosis NPK 200 kg/ha); N3 (Dosis NPK 250 kg/ha); N4 (Dosis NPK 300 kg/ha). Faktor kedua ialah dosis pupuk MOL KOHE sapi terdapat 3 level perlakuan yaitu: M1 (Dosis MOL 500 l/ha); M2 (Dosis MOL 625 l/ha); M3 (Dosis MOL 700 l/ha). Dari macam perlakuan tersebut diperoleh 12 kombinasi perlakuan ditambah 1 kontrol total terdapat 13 perlakuan, masing masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 39 kombinasi eksperimen percobaan, . Pada setiap petak percobaan terdapat 10 tanaman, setiap petak percobaan diambil 3 sampel pengamatan secara zigzag. Sehingga keseluruhan tanaman berjumlah 39 x 10 = 390 tanaman. Luas petak percobaan yaitu panjang 120 cm x 80 cm = 9.600 cm2 = 0,96 m2. Jarak antar petak yaitu 50 cm. Jarak antar ulangan 100 cm. Jarak antar tanaman 20 x 40 cm. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, jumlah polong, bobot segar dan kering polong, bobot segar dan kering total tanaman, bobot segar dan kering akar, uji vitamin C, uji klorofil, Indeks luas daun, laju dan kadar abu polong (%).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh antara pemberian pupuk NPK dan dosis MOL kotoran sapi terdap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis kenya dengan secara umum perlakuam N4M3 memberikan pengaruh yang lebih baik pada variabel pengamatan tinggi tanaman 30,04 cm pada umur 10 HST, 44,41 cm pada umur 15 HST, dan 54,86 cm umur 15 HST. Variable jumlah daun umur 10 HST (10,56 helai), 15 HST (17,67 helai), dan 20 HST (20,89 helai). Variabel kandungan klorofil (43,43).
