| dc.description.abstract | Para petani jamur kebanyakan membeli bibit di Lembaga penelitian yang berkaitan dengan jamur. Namun, harga bibit jamur tiram yang ada terbilang cukup mahal terutama pada bibit F0. Masalah yang sering dihadapi dari penggunaan PDA ini adalah nilai jual kentang yang mahal serta alat-alat yang digunakan untuk mendukung pembuatan bibit ini sangat rumit.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 sampai dengan bulan November 2024. Penelitian dilakukan di Kumbung Jamur Fakultas Pertanian lantai 2 Universitas Islam Malang. Semua data yang diperoleh dianalisis sidik ragam (ANOVA) atau uji F taraf 5% menggunakan metode Rancangan Petak Terbagi (RPT) Jika terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur 5%. Uji t Jika terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur 5%. Uji t Berpasangan digunakan untuk membandingkan rata-rata dari sampel pada variabel pengamatan waktu miselium memenuhi media dan selisih waktu antar generasi sedangkan uji Chi - Kuadrat digunakan untuk variabel pengamatan warna dan percabangan pada miselium. Variabel yang diamati yaitu waktu miselium memenuhi media, tingkat selisih antar generasi, warna dan ketebalan miselium, percabangan miselium, persentase kontaminasi, efisiensi produksi dan RC Ratio.
Didapatkan bahwa tidak terdapat interaksi antara penempatan bibit dengan inkubasi berbeda dan generasi bibit, namun secara terpisah masing-masing perlakuan memberikan pengaruh yang nyata. Pada variabel pengamatan waktu Miselium memenuhi media dan Tingkat selisih antar generasi perlakuan jenis media yang terbaik yaitu pada perlakuan M2 (TEL F1) dengan inkubasi manual. Pada perlakuan tersebut berpengaruh nyata pada pertumbuhan jamur tiram putih dari generasi F0 sampai F2. perlakuan yang memiliki R/C >1 layak untuk diproduksi dan dilakukannya penjualan sedangkan terutama untuk perlakuan yang memiliki R/C >5. Untuk perlakuan yang layak untuk usaha tani yaitu terdapat pada peralakuan I1M1 yang memiliki RC tertinggi yaitu sebesar 21,67.
Persentase kontaminasi pada bibit jamur tiram pada percobaan yang telah dilakukan menghasilkan bahwa inkubasi otomatis dengan panas kontinyu masih menjadi yang lebih baik dibandingkan dengan inkubasi manual. Generasi yang banyak mengalami kontaminasi yaitu pada generasi F0 terutama metode BMM dengan inkubasi manual. Pertumbuhan inkubasi manual dengan generasi F1 masih menjadi pertumbuhan yang baik dibandingkan dengan inkubasi otomatis dengan generasi F0. | en_US |