Pengaruh Penggunaan Internet Of Things (Iot) Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tiga Jenis Jamur (Tiram Putih, Tiram Merah Dan Kuping)
Abstract
Banyak kendala yang dialami oleh para petani jamur kayu, diantaranya sulit untuk menjaga kelembapan dan suhu pada kumbung jamur . Pada budidaya konvensional, petani biasanya mengatur suhu dan kelembapan dengan cara menyemprotkan air secara manual pada pagi, siang dan sore hari. Hal ini membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup banyak sehingga perlu inovasi menggunakan IoT untuk melakukan penyiraman.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2024 sampai Desember 2024. Penelitian dilakukan di Kumbung Jamur Fakultas Pertanian Lantai 2 Universitas Islam Malang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan petak utama berupa sistem penyiraman (P) dan anak petak berupa jenis jamur (J). Kombinasi perlakuan didapatkan yaitu P1J1 (Sistem Manual + Jamur Tiram Putih), P1J2 (Sistem Manual + Jamur Tiram Merah), P1J3 (Sistem Manual + Jamur Kuping), P2J1 (Sistem Otomatis + Jamur Tiram Putih), P2J2 (Sistem Otomatis + Jamur Tiram Merah), dan P2J3 (Sistem Otomatis + Jamur Kuping). Variabel pengamatan berupa pertumbuhan panjang miselium, waktu miselium memenuhi media, waktu pertama muncul badan buah, diameter tangkai, jumlah tudung buah, diameter tudung buah, bobot segar total badan buah, bobot kering total badan buah, nilai efisiensi biologi (EB), nilai efisiensi alat dan R/C rasio usaha tani. Semua data yang diperoleh dilakukan analisis sidik ragam atau uji F, jika terdapat hasil yang nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) 5%. Uji t berpasangan digunakan untuk membandingkan rata-rata dari sampel pada variabel pengamatan waktu miselium memenuhi media, waktu pertama muncul badan buah, diameter tangkai, jumlah tudung buah, diameter tudung buah, bobot segar total badan buah, bobot kering total badan buah dan nilai efisiensi biologi (EB).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara perbedaan sistem kontrol suhu dan kelembapan dengan perbedaan jenis jamur yaitu pada rata-rata pertumbuhan panjang miselium pada 7 HSI dengan perlakuan yang baik yaitu P2J1 (Sistem Otomatis + Jmur Tiram Putih), rata-rata waktu miselium memenuhi media dengan perlakuan yang cepat yaitu pada perlakuan P2J1 (Sistem Otomatis Jamur Tiram Putih), dan rata-rata diameter tudung buah dengan perlakuan yang bagus yaitu P2J3 (Sistem Otomatis + Jamur Kuping). Sedangkan untuk variabel hasil berupa bobot segar total badan buah, bobot kering total badan buah, dan nilai efisiensi biologi (EB) tidak terdapat interaksi. R/C rasio >1 layak untuk digunakan sebagai acuan dengan sistem otomatis yaitu pada perlakuan J1 (Jamur Tiram Putih) dengan nilai 1,46 dan pada sistem manual J1 (Jamur Tiram Putih) dan J2 (Jamur Tiram Merah) masing-masing nilai 2 dan 1,56. Pada efisiensi alat menggunakan IoT terdapat persentase nilai >50% yaitu persentase efisiensi produksi pada maisng-masing jenis jamur yaitu pada jamur tiram putih sebesar 106%, jamur tiram merah sebesar 99% dan jamur kuping sebesar 157%, efisiensi ekonomi dengan persentase 41% dan efisiensi waktu mendapat persentase 80%.
