Analisis Manajemen Risiko Produksi Benih Jagung Hibrida (Studi Kasus : Pt. Corresco Seeds Indonesia, Kota Malang)
Abstract
Jagung adalah komoditas strategis nasional yang tergabung dalam kelompok PAJALE (Padi, Jagung, dan Kedelai). Jagung memiliki fungsi antara lain sebagai bahan pangan pokok rumah tangga di beberapa daerah di Indonesia, bahan baku pakan ternak, dan bahan baku industri makanan dan minuman jadi. Fungsi penting pada komoditas jagung tersebut menjadikan Pemerintah Indonesia menetapkan jagung sebagai bagian dari Program Swasembada Pangan dalam upaya mendukung ketahanan pangan. Namun, komoditas jagung menghadapi tantangan tren penurunan luas panen yang diikuti juga oleh penurunan produksi jagung pipilan dengan standar kadar air 14%. Penggunaan benih jagung hibrida menjadi solusi peningkatan produktivitas komoditas jagung. PT. Corresco Seeds Indonesia merupakan perusahaan riset pertanian dengan objek utama pengembangan varietas jagung hibrida. Perusahaan memastikan proses produksi meliputi panen dan processing berjalan baik sesuai SOP dan menghasilkan benih berkualitas tinggi. Beberapa penelitian terdahulu hanya menyoroti faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih jagung hibrida hingga tahap panen. Hingga saat ini, jarang ditemukan penelitian yang menyoroti tentang risiko produksi khususnya pada benih jagung hibrida. Penelitian ini bertujuan 1) Menganalisis tingkat risiko produksi benih jagung hibrida, 2) Mengidentifikasi risiko-risiko yang mempengaruhi produksi benih jagung hibrida, dan 3) Merumuskan dan menganalisis strategi mitigasi produksi benih jagung hibrida yang efektif dan efisien.
PT. Corresco Seeds Indonesia dipilih sebagai lokasi penelitian karena sebagai perusahaan lokal pembenihan jagung hibrida dengan tujuan menciptakan kemandirian benih jagung hibrida. Penelitian ini dilakukan di dua lokasi yaitu di : 1) Kantor perusahaan di Kota Malang pada bulan Januari-Februari 2025, dan 2) Breeding Farm di Kabupaten Ponorogo pada bulan September-Desember 2024. Data penelitian adalah data primer yang diperoleh melalui wawancara kepada key informan, observasi langsung proses produksi, dan studi laporan perusahaan. Selain itu, data sekunder diperoleh dari literatur beserta laporan-laporan yang ada pada website perusahaan. Key informan adalah mereka yang memiliki pemahaman tentang objek penelitian dengan pengalaman kerja selama 12 tahun lebih yaitu antara lain CRO, CEO, dan manajer operasional. Metode KV (Koefisien Varians) digunakan untuk menganalisis tingkat risiko produksi benih jagung hibrida. Metode HOR (House of Risk) digunakan untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang mempengaruhi produksi benih jagung hibrida serta merumuskan dan menganalisis strategi mitigasi risiko produksi yang teridentifikasi.
Analisis tingkat risiko produksi benih jagung hibrida menggunakan dua pendekatan yaitu 1) Produksi Lintas Musim Tanam. Panen pada lintas musim tanam memiliki nilai KV sebesar 16% berarti risiko sedang, maksimal hasil panen sebesar 94,8 ton dan minimal 49,2 ton. Processing pada lintas musim tanam memiliki nilai KV sebesar 17% berarti risiko sedang, maksimal hasil processing sebesar 41,76 ton dan minimal 20,24 ton. 2) Produksi Setiap Musim Tanam. Produksi pada panen musim tanam 1 memiliki nilai KV sebesar 3,7% berarti risiko rendah, maksimal hasil panen musim tanam 1 sebesar 89,08 ton dan minimal 76,92 ton. Produksi pada panen musim tanam 2 memiliki nilai KV sebesar 6,4% berarti risiko rendah, maksimal hasil panen musim tanam 2 sebesar 68,8 ton dan minimal 53,2 ton. Produksi pada processing musim tanam 1 memiliki nilai KV sebesar 8,6% berarti risiko rendah, maksimal hasil processing musim tanam 1 sebesar 41,08 ton dan minimal 28,92 ton. Produksi pada processing musim tanam 2 memiliki nilai KV sebesar 15% berarti risiko sedang, maksimal hasil processing musim tanam 2 sebesar 35,1 ton dan minimal 18,9 ton
Berdasarkan hasil wawancara terhadap key informan, observasi proses produksi, dan studi laporan perusahaan, didapati 47 kejadian risiko (risk event) yang masing-masing memiliki tingkat keparahan dampak (severity). Didapati 19 kejadian risiko yang dampaknya termasuk parah (skala severity 8-9) terhadap proses produksi benih jagung hibrida. Dari kejadian risiko tersebut, didapati 12 agen risiko (risk agent) yang menjadi penyebabnya dengan masing-masing tingkat kemungkinan terjadinya (occurence). Didapati 2 agen risiko yang memiliki nilai skala occurence 8. Pada hasil analisis HOR fase 1 muncul nilai ARP (Agregate Risk Potential) yang menjadi dasar dalam pemeringkatan untuk penggunaan Diagram Pareto. Berdasarkan peringkat teratas dimulai dari A3, A11, A9, A4, A12, A1, A5, A7, A6, A8, A10, dan A2, dengan nilai ARP secara berurutan yaitu 8008, 5950, 5187, 4544, 2725, 2466, 1974, 1508, 948, 775, 621, dan 604. Dari total 12 agen risiko, terdapat 6 agen risiko secara kumulatif menyumbang sekitar 83% dari total nilai ARP keseluruhan, yaitu A3 (Tenaga kerja tidak menerapkan SOP dengan teliti), A11 (Kurangnya pengawasan), A9 (Human error), A4 (Keterbatasan jumlah tenaga kerja terampil), A12 (Mitra tidak menerapkan kontrak dan SOP dengan seksama), A1 (Iklim dan cuaca).
Pada hasil analisis HOR fase 2 muncul nilai ETD (Efectiveness of Difficult) yang menjadi dasar penentuan strategi mitigasi paling efektif dan efisien untuk mengelola risiko yang teridentifikasi. Strategi tersebut dari yang teratas adalah PA2 (Audit harian terhadap kegiatan lapangan) disusul oleh PA1 (Memanusiakan manusia), PA3 (Penyediaan alat bantu kerja), PA4 (Peningkatan kualitas tenaga kerja dengan pelatihan), PA6 (Pembuatan SOP khusus untuk menghadapi iklim dan cuaca), dan PA5 (Pembuatan perjanjian kerja sama berbasis kinerja dan sanksi).
Saran pada penelitian ini adalah 1) Bagi perusahaan untuk menerapkan manajemen risiko produksi benih jagung hibrida yang didasarkan pada temuan agen risiko dan kejadian risiko yang terjadi, sehingga strategi mitigasi akan lebih efektif dan efisien. 2) Bagi para mitra yang sudah menjalin PKS hendaknya menerapkan kontrak dan SOP yang telah disepakati dengan seksama. 3) Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan topik yang sama namun dengan metode yang berbeda, sehingga dapat melengkapi penelitian yang sudah dilakukan. 4) Bagi pemerintah untuk dapat memerhatikan upaya perusahaan yang bergerak pada bidang ketahanan pangan, sehingga kehadiran pemerintah akan memberikan dampak langsung bagi perusahaan sekaligus mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional.
