Analisis Nilai Tambah Dan Pengembangan Strategi Pemasaran Produk Keripik Jamur Muchu-Muchu (Studi Kasus Pada Umkm Jamur Mekar Mandiri Di Desa Pandesari Kecamatan Pujon)
Abstract
Harga jamur tiram pada saat UMKM Jamur Mekar Mandiri mulai didirikan yaitu Rp. 7.500 per kilonya, pada saat itu hasil panen melimpah namun pembeli maupun pemasok belum terlalu banyak sehingga banyak jamur yang tidak terjual. Mengingat jamur tiram menjadi salah satu komoditas hortikultura yang memilki ketahanan yang kurang baik, maka pengolahan yang dilakukan oleh UMKM Jamur Mekar Mandiri merupakan salah satu upaya untuk memperpanjang umur simpan dan meningkatkan nilai tambah produk yaitu dengan mengolah menjadi keripik jamur muchu-muchu. Pada saat Covid-19 keripik jamur mengalami penurunan penjualan, selama hampir 2 tahun bertahan akhirnya UMKM memilih untuk menawarkan produk ke toko oleh-oleh yang berada di Kota Wisata Batu. Sehingga perlu memperdalam strategi pemasaran agar produk tidak hanya bertahan di toko oleh-oleh Kota Batu saja, juga agar bisa eksis di pasar secara luas. Adapun tujuan penelitian yang pertama yaitu mengetahui besarnya nilai tambah keripik jamur muchu-muchu yang diperoleh UMKM Jamur Mekar Mandiri dan tujuan kedua adalah menganalisis pengembangan strategi pemasaran UMKM Jamur Mekar Mandiri.
Penelitian ini dilaksanakan di UMKM Jamur Mekar Mandiri, pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) karena UMKM Jamur Mekar Mandiri sudah berdiri selama 9 tahun namun belum adanya penelitian yang dilakukan disana dan belum maksimalnya pemasaran online sehingga produk belum banyak dikenal konsumen secara luas. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian yaitu data primer dan sekunder. Analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami dan analisis pengembangan strategi pemasaran menggunakan analisis SWOT.
Keripik jamur muchu-muchu merupakan produk hasil olahan dari UMKM Jamur Mekar Mandiri. Produk keripik jamur ini telah diproduksi sejak 2015 oleh Ibu Junarnik. Berbekal dari uji coba rasa hingga mendapatkan produk akhir hingga seperti saat ini. Produk keripik jamur dijual dengan harga Rp. 14.000/pcs dari UMKM itu sendiri. Jumlah bahan baku yang digunakan dalam satu kali produksi keripik jamur adalah 15 kg jamur tiram segar dan menghasilkan 6 kg keripik jamur. Faktor konversi yang didapatkan sebesar 0,40 dimana nilai konversi tersebut menunjukkan bahwa setiap 1 kg pengolahan jamur tiram segar akan menghasilkan 0,40 keripik jamur atau 0,40 kg keripik jamur. Nilai produk yang dihasilkan pada pembuatan keripik jamur tiram adalah Rp 56,000.00. Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan 1 kg jamur tiram menjadi keripik adalah sebesar Rp 22,745.00/kg, sedangkan rasio nilai tambah yang diperoleh adalah sebesar 40,6 persen. Rasio nilai tambah merupakan perbandingan antara nilai tambah dengan nilai produk. Hubeis (1997) menyatakan bahwa rasio nilai tambah rendah apabila <15 persen, rasio nilai tambah sedang apabila berkisar antara 15-40 persen, dan rasio nilai tambah tinggi apabila nilainya >40 persen. Rasio nilai tambah yang didapatkan pada pengolahan keripik jamur tiram termasuk dalam kategori nilai tambah tinggi yaitu 40,6 persen.
Strategi pemasaran yang digunakan oleh UMKM Jamur Mekar Mandiri saat ini berada pada kuadran 3 dimana perusahaan menghadapi peluang yang sangat besar dengan kelemahan internal yang kuat, sehingga diterapkan strategi WO (Weakness-Opportunity). Pengembangan strategi pemasaran menempatkan titik S:O (0,013):(0,2465) di kuadran 1 pada strategi agresif, posisi ini sangat menguntungkan bagi UMKM karena memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan adalah membuat konten-konten di sosial media seperti instagram dan tiktok dengan menonjolkan kualitas produk, salah satunya dengan mencatut terkait ketahanan produk (S1, W1), mempertahankan harga dan berat produk serta memasukkan produk di E-commerce agar konsumen mudah melakukan pembelian (S2, O1, S3), mengikuti segala agenda yang dibuat oleh pemerintah untuk UMKM sebagai bentuk upgrade skill dan promosi produk dari UMKM itu sendiri (S6, O4), memanfaatkan dengan baik kemudahan dalam melakukan perizinan usaha salah satunya dengan taat memperpanjang P-IRT yang berlaku selama 5 tahun (S1, O3), memastikan harga tetap bersaing dengan melengkapi stock di lokasi pemasaran karena keterjangkauan lokasi berpengaruh dikunjungi banyak konsumen (S3, O2, S4, S5).
Saran yang bisa diberikan melalui adanya penelitian ini yaitu mahasiswa yang ingin meneliti dengan topik yang relevan disarankan untuk mencari UMKM yang belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya karena hal tersebut akan membantu sebuah UMKM untuk melakukan pertumbuhan. Selain itu bisa dilakukan analisis pengembangan strategi dengan analisis hierarki proses maupun analisis simulasi perubahan harga input atau perubahan kebijakan. Adapun saran untuk UMKM disarankan untuk menerapkan strategi agresif yang sesuai dengan hasil penelitian. Adapun strategi yang bisa diterapkan secara riil yaitu dengan menambah varian rasa produk selain original dan pedas sehingga konsumen memiliki pilihan yang lebih banyak, memastikan ketersediaan stock agar tidak terjadi kekosongan produk pada beberapa lokasi pemasaran, mengaktifkan kembali E-commerce yang pernah dibuat dengan mengupdate produk secara berkala, dan mulai aktif sosial media seperti instagram dan tiktok lalu membuat konten yang relevan dengan produk. Untuk pemerintah perlu memperhatikan kebijakan yang berpotensi merugikan UMKM, alangkah baiknya jika mengkaji secara dalam dan benar terhadap setiap kebijakan yang akan diterapkan.
