| dc.description.abstract | Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dibudidayakan secara luas di berbagai belahan dunia. Selain mudah dibudidayakan, tomat juga memiliki kandungan gizi yang tinggi, sehingga menjadi bahan pangan penting bagi masyarakat baik dalam bentuk segar maupun olahan. Buah tomat dikenal sebagai sumber utama vitamin C, vitamin A (dalam bentuk β-karoten), likopen, serta berbagai senyawa antioksidan dan fitokimia lain yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh, termasuk dalam pencegahan penyakit degeneratif seperti kanker dan penyakit kardiovaskular
Produksi tomat di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa produksi nasional tomat menurun dari 11.687.437 kuintal pada tahun 2022 menjadi 11.437.877 kuintal pada tahun 2023. Penurunan ini mengindikasikan adanya permasalahan dalam sistem budidaya yang meliputi teknik pemupukan yang kurang efisien, penurunan luas lahan tanam, serta gangguan iklim dan serangan organisme pengganggu tanaman. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan berisiko menurunkan kesuburan tanah dan berdampak negatif terhadap lingkungan dalam jangka panjang. Salah satu pendekatan yang tengah dikembangkan adalah penerapan nanopartikel seperti zinc oxide (ZnO) dan silicon dioxide (SiO₂), yang diketahui dapat memperbaiki efisiensi penyerapan hara dan meningkatkan mutu hasil pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik konvensional.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi nanopartikel ZnO dan SiO₂ terhadap hasil dan kualitas buah tomat. Eksperimen dilakukan di rumah plastik di Malang dengan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial yang melibatkan dua faktor perlakuan, yaitu jenis nanopartikel (ZnO, SiO₂, dan kombinasi ZnO+SiO₂) dan variasi konsentrasi (25, 50, dan 75 ppm). Parameter yang diamati mencakup aspek hasil panen, meliputi jumlah buah, berat per buah, dan total berat buah, serta aspek kualitas buah yang meliputi total padatan terlarut (°Brix), kandungan vitamin C, kekerasan, diameter, dan panjang buah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian SiO₂ pada konsentrasi 50 ppm (N2K2) menghasilkan berat buah per buah dan total yang tertinggi, masing-masing sebesar 37,02 gram dan 964,61 gram per tanaman. Sementara itu, jumlah buah terbanyak diperoleh pada kombinasi ZnO dan SiO₂ konsentrasi 25 ppm (N3K1). Kandungan vitamin C tertinggi tercatat pada perlakuan ZnO 50 ppm (N1K2) dan kombinasi ZnO+SiO₂ 25 ppm (N3K1), meskipun hasilnya tidak berbeda nyata dengan kontrol menggunakan NPK 100%. Pada parameter total padatan terlarut dan kekerasan buah, tidak ditemukan perbedaan signifikan antar perlakuan. Sedangkan untuk diameter dan panjang buah, perlakuan NPK penuh masih menunjukkan hasil tertinggi dibandingkan dengan perlakuan nanopartikel.
Secara keseluruhan, aplikasi nanopartikel ZnO dan SiO₂, baik secara tunggal maupun dalam kombinasi, menunjukkan potensi dalam meningkatkan hasil dan mempertahankan kualitas buah tomat pada dosis tertentu. Namun demikian, efektivitasnya belum sepenuhnya setara dengan pemupukan NPK penuh pada seluruh parameter yang diamati. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi konsentrasi yang lebih rendah serta pengaruhnya dalam kondisi lahan yang bervariasi, sehingga penerapan teknologi ini dapat lebih optimal dan aplikatif dalam praktik pertanian berkelanjutan. | en_US |