Model Kelembagaan Agribisnis Alpukat Pameling Dan Peran Penyuluh Pertanian Pada Pt. Pameling Agro Nusantara
Abstract
Desa Wonorejo merupakan Desa penghasil alpukat pameling yang terpilih menjadi desa ketahanan pangan. PT Pameling Agro Nusantara merupakan salah satu perusahaan yang digagas oleh masyarakat setempat untuk memberdayakan petani khususnya petani alpukat pameling dan memperkenalkan komoditas alpukat pameling secara luas. Model kelembagaan seperti inkubator agribisnis memiliki peran penting dalam mengembangkan wirausaha di sektor pertanian melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, dan membangun jaringan bisnis, walaupun masih terdapat kelemahan dalam hal regulasi dan sumber pendanaan.Kelembagaan petani di pedesaan berkontribusi dalam akselerasi pengembangan sosial ekonomi petani; aksesibilitas pada informasi pertanian; aksesibilitas pada modal, infrastruktur, dan pasar; dan adopsi inovasi-inovasi pertanian. Peran kelembagaan dalam agribisnis sangat luas, mencakup berbagai aspek seperti penyediaan sarana produksi, pemasaran hasil pertanian, dan penyuluhan kepada petani. Kelembagaan yang baik dapat membantu petani dalam mengakses teknologi baru dan pasar yang lebih luas, sehingga meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model kelembagaan agribisnis di PT. Pameling Agro Nusantara dan pengaruh peran penyuluh terhadap pendapatan petani melalui pengembangan kelompok tani.
Kegiatan penelitian ini dilakukan di PT. Pameling Agro Nusantara yang berada di Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan melalui observasi lapang secara langsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel untuk tujuan pertama menggunakan key informant dan tujuan kedua menggunakan metode purposive sampling, yaitu dengan rumus 5 dikali jumlah indikator. Karena penelitian ini memiliki 26 indikator, jadi sampel yang diambil yaitu 5 x 26 = 130 petani. Penelitian ini menggunakan data primer. Model analisis yang digunakan yaitu Structural Equation Model (SEM).
Hasil penelitian ini adalah model kelembagaan agribisnis di PT. Pameling Agro Nusantara mulai dari Subsistem Hulu yaitu PT. Pameling Agro Nusantara dan koperasi yang didirikan oleh gapoktan untuk penyedian saprodi. Subsistem Usahatani yaitu 4 kelompok tani (Kelompok Tani Karya Makmur I , Kelompok Tani Karya Makmur II, Kelompok Tani Arjuno dan Kelompok Tani Sumber Lestari). Subsistem Hilir, untuk pengolahan hasil panen dan pemasaran yaitu koperasi dibawah Gapoktan Nakulo yang bermitra dengan PT. Pameling Agro Nusantara dan bekerja sama dengan ITB untuk mengembangkan produk turunan dari buah alpukat pameling. Dan Subsistem Jasa Penunjang yaitu BNI (untuk permodalan), BPP Lawang (dukungan teknis dan pelatihan), Perhutani (pemanfaatan lahan hutan produksi untuk aksesbilitas lahan petani mitra) dan Gapoktan Nakulo (memperkuat struktur kelembagaan petani).
Hasil analisis peran penyuluh terhadap pendapatan petani melalui pengembangan kelompok tani yaitu terdapat 3 hubungan yang berpengaruh dan 3 lainnya tidak. Variabel edukator (X1) tidak berpengaruh karena nilai p values 0,722 > 0,05 artinya peran penyuluh yang bersifat edukatif belum mampu memndorong pengembangan kelompok tani secara efektif sehingga tidak berkontribusi pada pendapatan petani. Diseminator (X2) berpengaruh karena nilai p values 0,001 < 0,005 artinya bahwa penyuluh yang aktif dalam menyebarkan informasi, teknologi dan inovasi pertanian mampu mendorong perkembangan kelompok tani yang kemudian berdampak positif terhadap pendapatan petani. Fasilitator (X3) berpengaruh karena nilai p values 0,045 < 0,05 artinya, ketiga intensitas fasilitasi oleh penyuluh meningkat maka akan meningkatkan efektivitas kelompok tani dalam peningkatan pendapatan petani. Konsultan (X4) tidak berpengaruh karena nilai p values 0,406 > 0,05 artinya, peran konsultatif penyuluh kurang efektif dikarenakan kurangnya keterlibatan aktif petani. Supervisor (X5) berpengaruh karena nilai p values 0,048 < 0,05 artinya, penyuluh yang menjalankan fungsi pengawasan, pembinaan, dan penilaian secara rutin terhadap kelompok tani mampu memperkuat struktur dan efektivitas kelembagaan kelompok, yang akhirnya berdampak positif terhadap pendapatan petani. Evaluator (X6) tidak berpengaruh karena nilai p values 0,566 > 0,05 artinya, evaluasi penyuluhan yang bersifat formal dan kurang partisipatif menyebabkan rekomendasi hasil evaluasi tidak banyak di implemetasikan oleh kelompok.
Saran bagi PT. Pameling Agro Nusantara untuk terus memperkuat sistem kelembagaan yang telah terbentuk melalui peningkatan koordinasi antar pelaku agribisnis, fasilitasi akses pasar dan teknologi serta pengembangan kapasitas kelompok tani secara lebih sistematis. Penyuluh pertanian juga perlu melakukan pendekatan yang partisipatif dan adaptif terhadap kebutuhan petani. Peningkatan evaluasi berkelanjutan terhadap program yang dilaksanakan agar menjamin efektivitas program penyuluhan. Dan saran untuk penelitian selanjutnya adalah untuk melakukan pengembangan model penelitian dengan menambahkan variabel-variabel lain yang relevan dan perluasan wilayah lain yang juga mengembangkan Alpukat Pameling agar memberikan gambaran yang lebih menyeluruh dan mendukung formulasi kebijakan berbasis data yang lebih kuat
