Analisis Konsumsi Pangan Protein Rumah Tangga Pada Pendapatan Kuintil Terendah Di Indonesia
Abstract
Kecukupan pangan merupakan indikator penting kesejahteraan rumah tangga yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan, Hal ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) pada tujuan kedua, yaitu Zero Hunger yang menargetkan penghapusan kelaparan dan peningkatan ketahanan pangan serta gizi yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat. Hal ini terutama relevan bagi negara seperti Indonesia yang memiliki jumlah penduduk mencapai 282,48 juta jiwa. Demikian juga dengan kecukupan pangan protein. Pangan protein merupakan pangan yang sangat strategis karena berhubungan langsung dengan kesehatan, pertumbuhan, serta mengindikasikan potensi masalah terkait ketahanan pangan dan status gizi. Konsumsi protein rumah tangga di Indonesia sebesar 64 gram per kapita per hari. Angka ini lebih dari standar Angka Kecukupan Protein (AKP) yaitu 57 gram per kapita per hari. Namun jika berdasarkan kuintil pendapatan, rumah tangga kuintil pendapatan terendah mengkonsumsi protein kurang dari standar AKP nasional. Standar AKP ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN. Seperti Malaysia dan Thailand, yang memiliki rata-rata konsumsi protein per kapita lebih dari 100 gram per kapita per hari. Konsumsi protein rumah tangga di Indonesia seringkali tidak tercukupi sesuai anjuran pemerintah, khususya rumah tangga pendapatan kuintil terendah. Data menyebutkan bahwa di beberapa negara berkembang di dunia, bahwa kelompok rumah tangga kuintil terendah seringkali memiliki daya beli yang rendah, apalagi untuk pangan protein hewani. Pangan protein hewani tergolong barang mewah karena harga tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola konsumsi pangan protein dan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi protein rumah tangga pada pendapatan kuintil terendah di Indonesia.
Penelitian menggunakan data sekunder dari Survei Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2022 yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap tahun pada rentang bulan Maret sampai September. Data penelitian berupa data konsumsi dan pengeluaran rumah tangga terhadap semua pangan sumber protein. Di samping itu juga data sosio-demografi yaitu data jumlah anggota rumah (Orang) tangga dan pendapatan (Rp/bulan). Data yang dikumpulkan berasal dari dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Jumlah sampel SUSENAS mencapai 339.584 rumah tangga. Untuk keperluan penelitian sampel dibagi ke dalam lima kelompok kuintil pendapatan. Pada penelitian ini hanya berfokus pada rumah tangga kuintil pendapatan terendah (Q1:<20%). Jumlah sampel rumah tangga kuintil pendapatan terendah sebanyak 67.918 rumah tangga. Sumber pangan protein di kelompokan menjadi 10 kelompok protein, terdiri dari 8 kelompok pangan protein hewani dan 2 kelompok protein nabati. Kelompok protein hewani meliputi ikan, makanan laut, daging sapi, daging domba, daging ayam, susu, telur dan daging lain. Sedangkan protein nabati terdiri dari tahu dan tempeh. Analisis data menggunakan probit model karena dependen bersifat dikotomus variabel yaitu 1 dan 0. Dengan ketentuan, Y=1 jika rumah tangga mengonsumsi protein dan 0 jika rumah tangga tidak mengonsumsi protein.
Pangan protein yang paling dominan dikonsumsi oleh pendapatan kuintil terendah adalah telur (78,9%). Kemudian di ikuti tahu dan tempeh (60%), Daging Ayam (36,7%), susu (16,7%), ikan (16,2%), daging sapi (3,5%), daging lain (3%), makanan laut (1%) dan daging domba (0,1%). Tahu dan tempeh adalah pangan protein nabati yang dikonsumsi oleh rumah tangga pada pendapatan kuintil terendah ketika sudah tidak mampu lagi untuk membeli pangan protein paling hewani paling terjangkau yakni telur. Daging ayam merupakan sumber protein hewani yang dikonsumsi setelah telur ketika pendapatan rumah tangga pada kuintil meningkat.
Hasil analisis probit terhadap pengujian 10 model konsumsi pangan protein menunjukan bahwa: 1) Berdasarkan uji Wald chi-square, semua model konsumsi pangan protein high signifikan, ditunjukan oleh p-value = 0,000. Dapat diartikan bahwa semua harga pangan protein, jumlah anggota rumah tangga dan pendapatan sangat berpengaruh terhadap konsumsi protein, 2) berdasarkan uji goodness of fit menunujukan bahwa semua model sesuai. Di tunjukan oleh p-value = 0,000. Dapat diartikan bahwa seluruh model prediksi sesuai dengan observasi. Telur adalah pangan protein hewani yang paling banyak dikonsumsi oleh rumah tangga di Indonesia. Pada model konsumsi telur diperoleh hasil bahwa harga telur tidak berpengaruh pada konsumsi telur. hal ini berarti bahwa naik turunya harga telur tidak mempengaruhi rumah tangga dalam mengonsumsi telur. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya bahwa telur merupakan barang normal. Pada model konsumsi daging sapi, harga daging sapi sangat berpengaruh pada konsumsi daging sapi. Artinya kenaikan harga daging sapi menurunkan konsumsi daging sapi (0,186). Hal ini sesuai dengan teori ekonomi bahwa jika harga naik maka konsumsi turun. Pangan protein substitusi daging sapi adalah kelompok ikan, daging ayam dan telur, dinjukan oleh koefisien regresi probit adalah positif. Ketika harga daging sapi naik Rp, meningkatkan konsumsi ikan, daging ayam dan telur (0,435; 0,037; 0,403). Atau dengan kata lain bahwa jika harga daging sapi meningkat maka rumah tangga pendapatan kuintil terendah mengganti konsumsi daging sapi dengan ikan, daging ayam dan telur, sedangkan pangan komplementer daging sapi adalah susu dan tahu. Dapat diartikan bahwa jika konsumsi daging sapi menurun diikuti oleh konsumsi susu dan tahu menurun pula. Temuan ini menegaskan bahwa betapa pentingnya menjaga stabilitas daging sapi terutama pada rumah tangga kuintil pendapatan terendah di Indonesia. Penelitian ini juga memasukkan dua variabel sosio-demografi, yakni jumlah anggota rumah tangga dan pendapatan rumah tangga. Jumlah anggota rumah tangga mempengaruhi 7 model konsumsi pangan protein. Kelompok makanan laut, daging kambing dan telur tidak terpengaruh pada jumlah anggota rumah tangga. Ditunjukan dengan nilai (sig > 0,05). Dapat diartikan bahwa bertambahnya jumlah anggota rumah tangga tidak mempengaruhi rumah tangga dalam mengkonsumsi makanan laut, daging kambing dan telur. Pendapatan hanya tidak berpengaruh pada konsumsi daging kambing. Artinya naik turunya pendapatan rumah tangga tidak mempengaruhi rumah tangga pada pendapatan kuintil terendah mengkonsumsi daging kambing.
Penelitian ini secara meyakinkan menunjukkan bahwa konsumsi pangan protein rumah tangga pada kuintil pendapatan terendah di Indonesia sangat dipengaruhi oleh harga, ukuran rumah tangga dan juga pendapatan. Kelompok telur menjadi sumber protein utama karena sifatnya yang terjangkau. Hasil analisis probit dan uji statistik menunjukkan bahwa model yang digunakan valid dan mampu menjelaskan hubungan antara variabel dengan sangat baik. Temuan penting lainnya adalah bahwa harga telur tidak berpengaruh pada konsumsi telur. Kenaikan harga pada komoditas protein hewani seperti daging sapi dan makanan laut mendorong pergeseran konsumsi ke telur sebagai substitusi. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya memperhatikan dinamika harga dan kondisi rumah tangga dalam merumuskan kebijakan ketahanan pangan berbasis protein, khususnya untuk kelompok rumah tangga berpendapatan rendah.
