Analisis Efisiensi Dan Keputusan Petani Dalam Memilih Varietas Benih Jagung Hibrida (Studi Kasus: Desa Blimbinggede, Kabupaten Bojonegoro)
Abstract
Jagung merupakan komoditas pertanian strategis kedua setelah padi dalam sistem ketahanan pangan nasional. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak langsung pada meningkatnya permintaan terhadap jagung, baik sebagai bahan pangan, pakan ternak, maupun bahan baku industri. Untuk menjawab tantangan tersebut, peningkatan produktivitas jagung menjadi prioritas utama melalui penerapan teknologi budidaya yang lebih maju, salah satunya adalah penggunaan benih unggul. Benih jagung hibrida dikenal memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dibandingkan benih lokal, karena sifat genetiknya yang lebih stabil serta ketahanannya terhadap hama dan penyakit tertentu. Di antara berbagai varietas yang beredar, varietas NK Perkasa dan NK 212 banyak digunakan oleh petani karena keduanya menawarkan keunggulan agronomis yang berbeda. Namun demikian, masing-masing varietas memiliki karakteristik spesifik yang memengaruhi tingkat produksi dan keuntungan yang diperoleh petani. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji tingkat efisiensi usahatani, membandingkan produktivitas petani pengguna kedua varietas tersebut, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam memilih varietas benih jagung hibrida.
Penelitian ini dilaksanakan pada November 2025 di Desa Blimbinggede, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, yang dipilih secara Purposive karena merupakan salah satu sentra produksi jagung hibrida dengan tingkat adopsi varietas NK Perkasa dan NK 212 yang cukup tinggi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Proportional Stratified Random Sampling, mengingat penelitian ini bersifat komparatif serta karakteristik responden yang tidak homogen. dengan kriteria petani yang menggunakan salah satu dari kedua varietas benih tersebut dalam satu musim tanam terakhir. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari petani pengguna varietas NK Perkasa dan NK 212, dengan jumlah keseluruhan sebanyak 101 orang. Tujuan penelitian, digunakan beberapa metode analisis. Efisiensi usahatani dianalisis dengan pendekatan R/C Ratio menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel. Selanjutnya, untuk mengetahui perbedaan pendapatan antara pengguna varietas NK Perkasa dan NK 212 dilakukan uji t dua sampel tidak berpasangan. Sedangkan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam memilih varietas benih jagung hibrida digunakan analisis regresi logistik biner dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25.
Berdasarkan hasil analisis efisiensi usahatani jagung varietas NK Perkasa dan NK 212 dengan R/C Rasio 3,06 dan 2,57. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usahatani jagung varietas NK Perkasa dan NK 212 dapat dikatakan efisien karena memiliki nilai R/C Rasio > 1, usahatani tersebut menguntungkan untuk dilakukan. Hasil produksi yang diperoleh petani menunjukkan perbedaan yang mencolok. Untuk mengetahui apakah perbedaan produktivitas tersebut signifikan secara statistik, digunakan metode Independen Sample t-Test. Hasil uji menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,0001, baik pada asumsi varians homogen maupun heterogen. Nilai tersebut lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05 (α = 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara produktivitas varietas NK Perkasa dan NK 212. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa varietas NK 212 secara nyata lebih produktif dibandingkan varietas NK Perkasa di lokasi penelitian.
Berdasarkan hasil analisis uji wald melalui SPSS 25 dapat diketahui bahwa faktor–faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam memilih varietas unggul benih jagung hibrida yakni Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani dalam memilih varietas benih jagung hibrida adalah hasil produksi, lama berusahatani, tingkat pendidikan, harga benih, dan ketahanan benih terhadap hama dan penyakit. Sementara itu, variabel pendapatan dan pengaruh dari petani lain tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar instansi penyuluhan pertanian dan pihak-pihak terkait tidak mengasumsikan bahwa tingkat pendapatan petani secara otomatis menentukan keputusan pemilihan varietas benih. Meskipun pendapatan merupakan indikator penting dalam aspek ekonomi, hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tersebut tidak berpengaruh signifikan. Oleh karena itu, pendekatan penyuluhan sebaiknya lebih difokuskan pada peningkatan pengetahuan petani mengenai efisiensi input dan keunggulan agronomis varietas yang digunakan. Selanjutnya, karena pengaruh petani lain tidak terbukti signifikan dalam pengambilan keputusan, maka pendekatan penyuluhan kolektif berbasis komunitas perlu dilengkapi dengan pendekatan individual yang mempertimbangkan pengalaman, kebutuhan, dan kondisi spesifik masing-masing petani. Meskipun demikian, keberhasilan petani lain tetap dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran informal yang mendukung efektivitas penyuluhan formal. Upaya peningkatan kapasitas petani secara personal melalui pendidikan dan pengalaman praktis akan memperkuat kemandirian petani dalam memilih varietas yang paling sesuai dengan kondisi agroekosistem dan tujuan usahatani mereka.
