Uji Lama Induksi Siplo Dan Pemberian Konsentrasi Ammonium Carbonat Terhadap Pertumbuhan Dan Kualitas Hasil Pada Budidaya Tanaman Selada Keriting (Lactuca Sativa l.) Sistem Hidroponik Wick
Abstract
Selada keriting (Lactuca sativa L.) merupakan tanaman hortikultura yang banyak diminati oleh masyarakat saat ini. Peranan komoditas hortikultura berperan penting dalam pengembangan gizi masyarakat. Selada merupakan tanaman sayuran yang memiliki kandungan gizi tinggi, warna, tekstur, serta yang banyak diminati. Tanaman ini termasuk kedalam tanaman semusim yang dapat dibudidayakan didaerah dingin, lembab baik didataran tinggi maupun rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama induksi siplo dan pemberian ammonium carbonat dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil tanaman selada. Penelitian ini dilaksanakan selama kurun waktu ± 40 hari. Dimulai pada bulan Agustus – September 2022. Penelitian ini dilaksanakan di greenhouse bertepat di Bunulrejo, Belimbing, Kota Malang, Jawa Timur.
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor I Uji Lama Induksi Siplo yang terdiri dari 3 taraf level yaitu; S0 = 0 menit, S1= 30 menit, dan S2 = 60 menit dan Faktor II Dosis Ammonium Carbonat yang terdiri dari 4 taraf level yaitu ; A0 = 0 ml/L, A1
= 0,5 ml/L, A2 = 1 ml/L, dan A3 = 1,5 ml/L. Dua faktor tersebut diperoleh 12 kombinasi perlakuan, dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan 3 sampel. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar total tanaman, bobot kering total tanaman, bobot konsumsi, bobot segar akar, bobot kering akar, susut bobot, klorofil, efisiensi biologi dan hasil ton per hektar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara lama induksi siplo dan pemberian ammonium carbonat terhadap variabel pertumbuhan, pada parameter tinggi tanaman, luas daun dan jumlah daun, secara umum perlakuan S2A3 (Siplo 60 menit + Ammonium Carbonat 1,5 ml/L ) dan S2A2 (Siplo 60 menit + Ammonium Carbonat 1 ml/L ) memberikan hasil yang sama- sama baik. Pengamatan jumlah daun pada tanaman berumur 14, 28 dan 35 hst, perlakuan S2A3 dan S2A3 memberikan respon yang sama dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, sedangkan pada Pengamatan jumlah daun secara terpisah menunjukkan nilai terbesar pada tanaman berumur 7 dan 21 HST, perlakuan S2 sebesar 9,42 helai dan perlakuan A3 sebesar 9,48 helai. Pengamatan luas daun pada 7hst perlakuan S2A2 dan memberikan respon yang baik sedangkan pada tanaman berumur 14,21,28 dan 35 perlakuan S2A3 memberikan respon tertinggi. Pengamatan tinggi tanaman pada umur 7 hst perlakuan S2A3 memberikan respon yang baik dan berbeda nyata dengan yang lainnya, pada umur 14 hst S2A3, S2A2, S1A2, S2A0 dan S1A0 memberikan respon yang sama, pada tanaman berumur 21 dan 35 hst perlakuan S2A2 dan S2A3 tidak berbeda nyata, dan
pada tanaman berumur 28 hst perlakuan S2A3 memberikan respon yang baik. Dan pada nilai SPAD perlakuan S2A0, S1A0, S0A2, S1A2, S2A2, S0A3, S1A3, S2A3
memberikan respon yang sama baik dan tidak berbeda nyata.
Parameter hasil tanaman memperlihatkan data bobot segar tanaman selada terbesar pada perlakuan S2A3 sebesar 260,00 g, berat kering tanaman perlakuan S2 A3 menunjukkan nilai terbesar yaitu 56,26 g, bobot konsumsi tanaman memiliki nilai tertinggi sebesar 246,67 g, bobot susut suhu 260C secara terpisah, nilai terbaik pada perlakuan S0 sebesar 44,52%, perlakuan A0 sebesaar 45,80%, bobot segar akar perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan S2A3 sebesar 30,90 g, untuk bobot kering akar perlakuan terbaik pada perlakuan S2A3 yaitu sebesar 5,50g, paramater efisinensi biologi perlakuan S2A3 memberikan hasil yang baik dan tertinggi yaitu sebesar 99,81%, dan parameter hasil ton per hektar secara terpisah menunjukkan bahwa perlakuan S2 dan A3 memberikan respon terbaik sebesar 8,57 dan 7,79 ton per ha.
