Pengaruh Intermittent Fasting Pada Kadar Immunoglobulin M Dan Immunoglobulin G Tikus Wistar (Rattus Norvegicus) Setelah Dipapar Lipopolisakarida
Abstract
Pendahuluan: Bakteri Gram-negatif menimbulkan beberapa masalah kesehatan terhadap populasi masyarakat. Infeksi bakteri Gram negatif memicu peradangan sistemik menimbulkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Intermittent fasting merupakan metode pembatasan makanan secara berkala yang berpotensi terhadap penghambatan reaksi peradangan dan peningkatan fungsi sistem imunitas melalui adanya aktivasi AMPK. Peningkatan fungsi sistem imunitas dalam menghadapi antigen berpotensi berpengaruh terhadap produksi immunoglobulin M dan immuoglobulin G.
Metode: Penelitian ini menggunakan serum tikus Wistar jantan dan betina yang dibagi ke dalam delapan kelompok, terdiri dari kelompok kontrol (KN), kelompok intermittent fasting (IF) model 16 jam fasting /8 jam eating setiap hari, model 16 jam fasting/8 jam eating tiap dua hari sekali, dan model 16 jam fasting/8 jam eating tiap tiga hingga empat hari sekali. Kadar IgM dan IgG dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji post-hoc dengan tingkat signifikansi p <0,05.
Hasil: Pada tikus wistar jantan, semua variasi model intermittent fasting 16 jam fasting/8 jam feeding menunjukkan kadar IgM dan IgG yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Sedangkan, pada tikus Wistar betina, semua variasi model intermittent fasting 16 jam fasting/8 jam feeding menunjukkan kadar IgM dan IgG yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol
Simpulan: Semua model intermittent fasting dapat menurunkan kadar immunoglobulin M dan immunoglobulin G pada tikus wistar jantan dan betina. Temuan ini mengindikasikan bahwa IF dapat berpengaruh terhadap penurunan produksi kadar IgM dan IgG.
Kata Kunci: Intermittent fasting; immunoglobulin M; immunoglobulin G; Lipopolisakarida
