Metacognitive Blindness dalam Pemecahan Masalah Matematis Peserta Didik Kelas IX SMPN 13 Malang pada Materi Lingkaran
Abstract
Kemampuan metacognitif memegang peranan penting dalam pemecahan masalah matematis karena memungkinkan peserta didik merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses berpikirnya secara reflektif. Namun, dalam praktik pembelajaran matematika masih ditemukan peserta didik yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah meskipun memiliki pengetahuan awal yang memadai. Kondisi ini mengindikasikan adanya metacognitive blindness, yaitu kegagalan peserta didik dalam menyadari, memantau, dan mengendalikan proses berpikirnya selama pemecahan masalah matematis, khususnya pada materi lingkaran.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan karakteristik metacognitive blindness yang dialami peserta didik dalam pemecahan masalah matematis pada materi lingkaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian dipilih secara purposif berdasarkan kemampuan matematika dan karakteristik respons dalam menyelesaikan masalah. Teknik pengumpulan data meliputi tes pemecahan masalah matematis dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk mengidentifikasi pola dan hubungan konseptual yang merepresentasikan proses berpikir subjek.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metacognitive blindness berkembang sebagai spektrum kegagalan regulasi metakognitif yang melibatkan tahap perencanaan, pemantauan, dan evaluasi. Temuan mengidentifikasi empat bentuk utama, yaitu Total Metacognitive Blindness, Partial Metacognitive Blindness, Metacognitive Myopia, dan Metacognitive Oversight Blindness. Kegagalan regulasi tersebut ditandai oleh kecenderungan subjek menerapkan prosedur secara langsung tanpa membangun representasi konseptual, tidak memanfaatkan kesulitan sebagai sinyal metakognitif untuk melakukan koreksi strategi, serta menerima hasil akhir tanpa evaluasi reflektif terhadap kewajaran jawaban.
Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan mengembangkan model konseptual metacognitive blindness yang menunjukkan bahwa kegagalan regulasi berpikir dapat terjadi secara menyeluruh maupun parsial pada tahap tertentu. Secara pedagogis, temuan ini menegaskan pentingnya pembelajaran matematika yang menyediakan ruang reflektif agar peserta didik terbiasa memantau dan mengevaluasi proses berpikirnya secara sadar.
