| dc.description.abstract | Ketahanan pangan nasional hingga saat ini masih bergantung pada beras sebagai sumber pangan karbohidrat utama. Di tengah upaya pemerintah dalam mendorong diversifikasi pangan, khususnya di perkotaan. Konsumsi masyarakat menunjukkan mulai adanya keberagaman seiring perubahan gaya hidup, peningkatan pendapatan, dan perkembangan pangan olahan modern. Masyarakat perkotaan cenderung mulai tertarik terhadap berbagai jenis pangan, baik pangan lokal maupun pangan olahan berbasis terigu, sehingga berpotensi mengubah konsumsi karbohidrat yang sebelumnya lebih memilih mengkonsumsi beras daripada pangan lainnya. Sebagian besar penelitian terdahulu masih berfokus pada konsumsi pangan secara nasional dan membandingkan antara perdesaan dan perkotaan secara umum, tanpa menggali secara mendalam bagaimana konsumsi sumber pangan karbohidrat di perkotaan serta bagaimana hubungan antar komoditas pangan tersebut dalam memengaruhi permintaan beras. Selain itu, penelitian mengenai hubungan substitusi dan komplementer antar sumber pangan karbohidrat di perkotaan Indonesia masih relatif terbatas. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang secara khusus untuk mendeskripsikan konsumsi sumber pangan karbohidrat di perkotaan Indonesia serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi permintaan beras dengan mempertimbangkan aspek harga, hubungan substitusi dan komplementer antar komoditas, serta karakteristik sosial ekonomi rumah tangga. Penelitian ini diharapkan dapat mengisi celah (research gap) dan memberikan kontribusi empiris bagi perumusan kebijakan pangan di perkotaan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konsumsi rumah tangga terhadap sumber pangan karbohidrat di perkotaan Indonesia serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi permintaan beras di perkotaan Indonesia. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara deskriptif konsumsi sumber pangan karbohidrat rumah tangga di perkotaan Indonesia dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan beras di perkotaan Indonesia.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2024. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif untuk menggambarkan konsumsi sumber pangan karbohidrat serta analisis regresi log–log dengan jumlah sempel sebesar 198.387 rumah tangga di perkotaan Indonesia, untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi permintaan beras. Variabel dependen dalam model adalah permintaan beras rumah tangga di perkotaan, sedangkan variabel independen meliputi harga beras, harga berbagai sumber pangan karbohidrat lainnya seperti harga jagung pipilan, harga tepung terigu, harga ketela pohon, harga ketela rambat, harga sagu, harga talas, harga kentang, harga mie, jumlah anggota rumah tangga, dan pengeluaran pangan sebagai proksi pendapatan rumah tangga. Pengujian model dilakukan melalui uji statistik berupa Uji F, koefisien determinasi (R²) dan Uji t.
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa konsumsi sumber pangan karbohidrat rumah tangga di perkotaan Indonesia masih didominasi oleh beras dengan rata-rata konsumsi 21,44 kg per bulan, tertinggi dibandingkan komoditas lainnya. Diversifikasi pangan mulai terlihat melalui konsumsi mie sebesar 19,6 per bulan dan tepung terigu sebesar 8,52 per bulan, yang mencerminkan pengalihan konsumsi ke arah pangan olahan modern. Sementara itu, pangan non-beras seperti jagung pipilan (1,12 kg), ketela rambat (2,2 kg), kentang (5,24 kg), ketela pohon (2,56 kg), sagu (1 kg), dan talas (0,72 kg) memiliki tingkat konsumsi yang relatif rendah. Talas menjadi komoditas dengan konsumsi terendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa diversifikasi konsumsi karbohidrat di perkotaan masih bersifat komplementer, belum menggantikan peran beras. Selain itu, pangan non-beras seperti jagung pipilan, ketela pohon, ketela rambat, sagu, dan talas masih memiliki tingkat konsumsi yang relatif rendah dan cenderung berperan sebagai pangan pelengkap. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat di perkotaan belum sepenuhnya mengarah pada substitusi beras, melainkan masih bersifat komplementer.
Faktor-faktor yang memengaruhi permintaan beras di perkotaan Indonesia ini dianalisis menggunakan model regresi log-log. Berdasarkan hasil Uji F, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,05), yang menunjukkan bahwa seluruh variabel independen dalam model secara simultan berpengaruh signifikan terhadap permintaan beras. Dengan demikian, model regresi log-log yang digunakan dinyatakan layak untuk menjelaskan permintaan beras rumah tangga di perkotaan Indonesia. Selanjutnya, hasil Uji R menunjukkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,4593. Nilai ini berarti bahwa sebesar 45,93 persen variasi permintaan beras di perkotaan Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel harga komoditas pangan, jumlah anggota rumah tangga, dan pengeluaran pangan sebagai proksi pendapatan rumah tangga. Sementara itu, sebesar 54,07 persen variasi permintaan beras dipengaruhi oleh faktor lain di luar model, seperti preferensi konsumsi, tingkat pendidikan, budaya, dan faktor wilayah. Berdasarkan hasil Uji t, harga beras terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan beras dengan tingkat signifikansi < 0,05, yang menunjukkan bahwa beras merupakan barang kebutuhan pokok. Harga jagung pipilan, talas dan sagu berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan beras (Sig. < 0,05), sehingga kedua komoditas tersebut berperan sebagai barang substitusi bagi beras. Sebaliknya, harga tepung terigu, ketela pohon, ketela rambat, kentang, dan mie berpengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan beras (Sig. < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan komplementer dengan beras dalam konsumsi rumah tangga di perkotaan. Selain faktor harga, jumlah anggota rumah tangga dan pengeluaran pangan sebagai proksi pendapatan rumah tangga juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan beras, yang menunjukkan bahwa peningkatan jumlah anggota rumah tangga dan pengeluaran pangan tetap mendorong peningkatan kebutuhan beras meskipun terjadi diversifikasi konsumsi pangan.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsumsi rumah tangga terhadap sumber pangan karbohidrat di perkotaan Indonesia masih didominasi oleh beras, meskipun telah terjadi diversifikasi pangan yang bersifat terbatas dan komplementer. Permintaan beras di perkotaan Indonesia dipengaruhi secara signifikan oleh faktor harga, hubungan substitusi dan komplementer antar komoditas, serta karakteristik sosial ekonomi rumah tangga. Dengan demikian, beras tetap memiliki posisi strategis dalam struktur konsumsi pangan rumah tangga di perkotaan Indonesia. Berdasarkan kesimpulan tersebut, pemerintah perlu memperkuat kebijakan diversifikasi pangan dengan memperhatikan hubungan substitusi dan komplementer antar komoditas pangan. Pengembangan pangan non-beras sebaiknya diarahkan agar tidak hanya berperan sebagai pelengkap, tetapi juga mampu menjadi substitusi beras yang lebih diterima oleh masyarakat perkotaan. Selain itu, stabilitas harga beras dan komoditas pangan perlu dijaga secara seimbang, mengingat bahwa faktor harga dan sosial ekonomi rumah tangga berpengaruh nyata terhadap permintaan beras. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus mendorong konsumsi pangan yang lebih beragam dan berkelanjutan. | en_US |