| dc.description.abstract | Pangan selalu menjadi isu strategis dalam pembangunan di tingkat global dan nasional, karena kecukupan pangan merupakan hak setiap warga negara yang harus terjamin kuantitas, kualitas, keamanan dan nilai gizinya. Salah satu bahan pangan yang terpenting di Indonesia adalah beras, Beras merupakan sumber utama makanan berkarbohidrat di Indonesia, produksi beras dalam negeri merupakan produksi terbesar di seluruh negeri semua kuintil pendapatan rumah tangga. Sehingga kebutuhan beras terus meningkat baik seiring pertumbuhan penduduk maupun peningkatan pendapatan masyarakat yang berdampak pada peningkatan konsumsi beras terutama di rentang menengah kebawah. Tingkatan masyarakat dari strata yang rendah hingga tingkatan yang memiliki penghasilan menengah ke atas mengonsumsi beras sebagai pangan utama. Periode Maret-September 2022 Susenas mensajikan informasi pengeluaran konsumsi penduduk yang disajikan dalam bentuk kewilayahan. Dalam penelitian ini memiliki tujuan yaitu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan beras rumah tangga di Provinsi Bali.
Penelitian ini menggunakan metode analisis data deskriptif kuantitatif. Penelitian ini berkaitan dengan investigasi perilaku konsumsi nasi dan umbi-umbian masyarakat. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan konsumsi beras dan komoditas lainnya di Provinsi Bali. populasi dalam penelitian ini adalah semua rumah tangga yang berada di Bali. Pada data Susenas tahun 2022 Provinsi Bali menunjukan jumlah rumah tangga yang dilakukan sampel yaitu sejumlah 6.312 rumah tangga. pada penelitian ini, memiliki metode analisis data yang sama yaitu menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Regresi linier berganda adalah suatu metode analisis yang melibatkan lebih dari satu variabel independen, dimana analisis regresi linier berganda dilakukan untuk mengetahui arah dan seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali 2016)
Pada rumusan masalah pada penelitian ini terdapat indikator yang berpotensi menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga di Bali. Indikator yang dimaksud meliputi variabel harga beras (X1), harga beras ketan (X2), harga jagung pipilan (X3), harga terigu (X4), harga ketela pohon (X5), harga ketela rambat (X6), harga sagu (X7), harga talas (X8), harga kentang (X9), harga gaplek (X10), harga tongkol (X11), harga daging ayam (X12), harga telur ayam (X13), harga susu bubuk (X14), harga tahu (X15), harga tempe (X16), pendapatan (X17), dan jumblah anggota rumah tangga (X18) Tolak ukur dalam penelitian ini yaitu permintaan Rumah Tangga Terhadap Kebutuhan Beras Di Provinsi Bali (Y). Data sekunder yang diperoleh (Survei Sosial Ekonomi Nasional atau sering disebut dengan Susenas 2022) ini akan ditabulasikan terlebih dahulu dengan bantuan aplikasi Microsoft Excel, kemudian akan dianalisis menggunakan bantuan aplikasi SPSS.
faktor-faktor permintaan beras di Provinsi Bali sangat beragam. Namun secara rata-rata jumlah pengeluaran konsumsi yang paling banyak dikeluarkan untuk pengeluaran konsumsi pangan berasal dari kategori padi-padian khususnya pada konsumsi beras dengan total pengeluaran konsumsi sebesar 3,26 Kg/minggu. Sehingga dapat dikatakan masyarakat di Provinsi Bali sebagian besar mengkonsumsi beras untuk kebutuhan pangan sumber karbohidrat sehari-hari. Yang artinya ada pangan padi-padian dan umbi-umbian yang bersifat subsitusi terhadap beras tetapi masih tetap beras sebagai pangan pokok dimana beras menjadi pangan utama di Provinsi Bali dengan persentase 93,1% rumah tangga mengonsumsi beras.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan beras di Provinsi Bali adalah harga beras, beras ketan, harga kentang, harga tongkol, harga daging ayam, , harga telur ayam, harga susu bubuk, pendapatan rumah tangga, dan jumlah anggota rumah tangga. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh saran agar tingkat pola konsumsi di Provinsi Bali beraneka ragam komoditas sebagai pangan pokok sumber karbohidrat dapat digantikan dengan memakan ketela pohon atau kentang. Dan untuk pemerintah daerah, dinas serta instansi terkait dapat lebih memperhatikan dan memperbanyak produksi kentang dan barang pengganti lainya agar dapat dijadikan barang pengganti terhadap beras sehingga dapat mengurangi ketergantungan konsumsi beras serta mengurangi impor beras, disisi lain agar tingkat pola konsumsi di Provinsi Bali beraneka ragam komoditas sebagai pangan pokok sumber karbohidrat. Dan juga memperhatikan pangan sumber protein, sehingga tidak hanya daging ayam saja yang menunjukan konsumsi dengan signifikan yang tinggi, maka dari itu perlunya penganekaragaman pangan sumber protein, harapannya agar kecukupan konsumsi pangan baik pangan sumber karbohidrat atau pangan sumber protein masyarakat Provinsi Bali dapat sesuai dengan yang dibutuhkan | en_US |