| dc.description.abstract | Tanaman sawi pakcoy (Brassica rapa L.) merupakan komoditas hortikultura dengan umur panen relatif singkat, sekitar 25-30 hari setelah tanam. Produksi sawi di Indonesia masih berfluktuasi, dari 760.608 ton pada tahun 2022 menurun menjadi 686.876 ton pada tahun 2023 dan meningkat menjadi 688.595 ton pada tahun 2024, yang menunjukkan perlunya pengelolaan budidaya yang lebih terkontrol, khususnya dalam pemberian nutrisi dan air. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah sistem fertigasi dan irigasi tetes berbasis IoT (Internet of Things) untuk mendukung pengaturan dan pemantauan distribusi nutrisi serta air pada tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan sistem tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pakcoy, membandingkannya dengan metode konvensional, serta menentukan perlakuan terbaik menggunakan analisis De Garmo.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan dua taraf perlakuan, yaitu sistem kontrol fertigasi dan irigasi tetes berbasis IoT dan sistem budidaya konvensional, masing-masing dengan tiga ulangan. Variabel yang diamati meliputi pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pakcoy, sedangkan data dianalisis menggunakan uji t dan analisis De Garmo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan IoT memberikan perbedaan nyata terhadap beberapa variabel pertumbuhan dan hasil tanaman sawi pakcoy dibandingkan perlakuan konvensional. Tinggi tanaman umur 21 HST pada perlakuan IoT mencapai 19,78 cm, sedangkan perlakuan konvensional mencapai 14,25 cm. Jumlah daun umur 14 HST pada perlakuan IoT mencapai 7,93 helai, sedangkan pada perlakuan konvensional sebesar 6,03 helai, dan pada umur 21 HST perlakuan IoT menghasilkan jumlah daun sebesar 12,20 helai, sedangkan perlakuan konvensional sebesar 10,10 helai. Luas daun umur 14 HST pada perlakuan IoT mencapai 179,06 cm², sedangkan perlakuan konvensional sebesar 106,42 cm², dan pada umur 21 HST perlakuan IoT menghasilkan luas daun sebesar 555,87 cm², sedangkan perlakuan konvensional sebesar 397,81 cm². Indeks luas daun umur 14 HST pada perlakuan IoT mencapai 0,199, sedangkan pada perlakuan konvensional sebesar 0,118, Kemudian pada umur 21 HST perlakuan IoT menghasilkan indeks luas daun sebesar 0,618, sedangkan perlakuan konvensional sebesar 0,442. Bobot segar konsumsi pada perlakuan IoT mencapai 117,53 g, sedangkan perlakuan konvensional mencapai 78,13 g. Bobot kering konsumsi pada perlakuan IoT sebesar 5,86 g, lebih tinggi dibandingkan perlakuan konvensional yang sebesar 4,39 g. Berdasarkan analisis De Garmo, perlakuan berbasis IoT memperoleh nilai produktivitas (NP) sebesar 0,76, lebih tinggi dibandingkan perlakuan konvensional sebesar 0,24, sehingga perlakuan IoT ditetapkan sebagai perlakuan terbaik dalam penelitian ini. | en_US |