| dc.description.abstract | Sektor pertanian memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional karena menjadi sumber utama penyedia pangan, lapangan kerja, serta penggerak perekonomian masyarakat pedesaan. Komoditas padi sebagai pangan pokok masyarakat Indonesia menempati posisi yang sangat penting dalam menjaga ketahanan dan swasembada pangan. Namun demikian, produktivitas padi di beberapa wilayah masih mengalami fluktuasi bahkan penurunan, termasuk di Kota Batu, khususnya Kecamatan Junrejo. Desa Pendem sebagai salah satu sentra produksi padi di Kota Batu menghadapi permasalahan penurunan luas panen dan produksi padi, sehingga diperlukan upaya serius untuk meningkatkan produktivitas petani padi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis peran penyuluh pertanian di Desa Pendem, Kota Batu; (2) mengukur tingkat efektivitas peran penyuluh pertanian dalam meningkatkan produktivitas petani padi; serta (3) mengidentifikasi faktor-faktor peran penyuluh pertanian yang berpengaruh terhadap produktivitas petani padi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, dengan waktu penelitian selama satu bulan, yaitu Januari–Februari 2026. Populasi penelitian adalah seluruh petani padi yang tergabung dalam kelompok tani di Desa Pendem sebanyak 388 orang. Penentuan sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 80 petani yang dipilih menggunakan teknik proportionate random sampling. Data penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan petani dan penyuluh pertanian lapang (PPL), dokumentasi, serta penyebaran kuesioner kepada responden. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Balai Penyuluh Pertanian (BPP), serta literatur dan penelitian terdahulu yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan peran penyuluh pertanian, skala Likert untuk mengukur tingkat efektivitas peran penyuluh, serta Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) untuk menganalisis pengaruh peran penyuluh terhadap produktivitas petani padi.
Berdasarkan hasil penelitian, peran penyuluh pertanian memperoleh nilai rata-rata 2,9 sehingga masuk dalam kategori cukup berperan, dimana peran yang sangat dirasakan oleh petani dan paling yang dinilai berperan adalah variabel organisator X2 (3,92) dan edukator X5 (3,61), dengan capaian tertinggi pada indikator memfasilitasi diskusi belajar antar petani X5.2 (4,86) dan mengorganisir pertemuan dan kegiatan kelompok tani X2.2 (4,84) di mana hampir seluruh responden memberikan penilaian sangat positif. di sisi lain, peran yang dinilai tidak berperan adalah variabel konsultan X4 (2,10) dan fasilitator X7 (2,10), yang disebabkan oleh tingginya tingkat ketidaksetujuan responden. Hasil analisis skala Likert menunjukkan bahwa efektivitas peran penyuluh pertanian dalam meningkatkan produktivitas petani padi masih tergolong rendah hingga cukup pada beberapa aspek penting. Peran penyuluh sebagai konsultan, dan fasilitator dinilai belum optimal dalam memberikan solusi teknis, pendampingan permasalahan usahatani, serta fasilitasi akses permodalan dan sarana produksi. Sementara itu, peran penyuluh sebagai motivator, organisator, komunikator, edukator, dan inovator tergolong cukup hingga efektif, terutama dalam pengelolaan kelompok tani dan penyaluran bantuan pertanian, meskipun peran tersebut belum mampu secara langsung mendorong peningkatan produktivitas petani padi secara signifikan.
Selanjutnya, hasil analisis Structural Equation Modeling (SEM) dengan metode Partial Least Square (PLS) menunjukkan bahwa secara simultan peran penyuluh pertanian memiliki kontribusi yang kuat terhadap produktivitas petani padi, dengan nilai R-Square sebesar 0,761. Hal ini berarti bahwa kombinasi seluruh peran penyuluh mampu menjelaskan 76,1% variasi produktivitas petani padi, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Namun, secara parsial tidak semua peran penyuluh menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas. Hasil uji path coefficient dan uji T-statistic menunjukkan bahwa hanya peran penyuluh sebagai motivator dan inovator yang terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas petani padi. Peran motivator memiliki pengaruh paling dominan, diikuti oleh peran inovator, yang menegaskan bahwa dorongan motivasi serta pendampingan penerapan inovasi teknologi pertanian menjadi faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas petani padi di Desa Pendem, Kota Batu. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan konsistensi peran penyuluh, khususnya dalam memotivasi petani dan menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan, menjadi hal yang sangat penting untuk mendorong peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.
Saran yang diberikan ditujukan kepada beberapa pihak. Penyuluh pertanian diharapkan dapat meningkatkan perannya sebagai motivator, inovator, komunikator, konsultan, edukator, organisator, dan fasilitator agar petani lebih percaya diri, mampu mengadopsi inovasi, serta meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan. Pemerintah terkait, seperti Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, diharapkan memperbaiki sistem bantuan agar lebih tepat sasaran, tepat waktu, dan sesuai dengan kebutuhan petani serta memperkuat kelembagaan kelompok tani. Petani dan kelompok tani juga diharapkan lebih aktif mengikuti kegiatan penyuluhan, terbuka terhadap inovasi, dan meningkatkan partisipasi anggota agar kelompok tani menjadi wadah belajar dan kerja sama. Selain itu, peneliti selanjutnya disarankan menambahkan faktor lain yang memengaruhi produktivitas petani padi, seperti faktor sosial ekonomi dan input pertanian sehingga dapat diketahui secara komprehensif faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas petani padi. | en_US |