Show simple item record

dc.contributor.authorESAPUTRA, RANGGA DIMAS
dc.date.accessioned2026-09-04T03:15:51Z
dc.date.available2026-09-04T03:15:51Z
dc.date.issued2025-11-04
dc.identifier.urihttps://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14183
dc.description.abstractSektor pertanian masih menjadi salah satu fondasi utama bagi ekonomi nasional Indonesia. Namun, masalah mendasar yang dihadapi saat ini adalah rendahnya nilai tambah produk, karena sebagian besar hasil tani masih dijual mentah tanpa diolah lebih lanjut. Hal ini menyebabkan pendapatan petani dan pelaku usaha kecil menengah menjadi tidak maksimal. Untuk memperbaiki kondisi ini, agroindustri perlu dikembangkan agar hasil pertanian bisa diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Salah satu bahan yang potensial dikembangkan adalah kedelai, karena selain gizinya tinggi, produk olahannya seperti keripik tempe sangat digemari masyarakat. Selain itu, keripik tempe juga lebih tahan lama dan punya nilai jual yang lebih tinggi daripada kedelai mentah. IKM Mirah Rejeki yang berlokasi di Sanan, Malang, merupakan industri kecil menengah yang punya potensi untuk maju, namun sejauh ini memang belum dianalisis secara mendalam soal proses pengelolaan, nilai tambah, dan kelayakan usahanya, namun belum dianalisis secara mendalam terkait proses pengelolaan, nilai tambah dan kelayakan usaha. oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah : 1). Menganalisis besarnya nilai tambah yang diperoleh IKM Mirah Rejeki. 2) Menganalisis Kelayakan Usaha keripik tempe di IKM Mirah Rejeki. Penelitian ini dilakukan di IKM Mirah Rejeki yang berlokasi di Jalan Sanan No. 35, Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Lokasi penelitian dipilih secara purposive karena agroindustri tersebut merupakan usaha skala kecil menengah yang berperan dalam pemanfaatan sumber daya lokal yang memiliki nilai ekonomi. Responden dalam penelitian ini adalah pemilik agroindustri yang berperan sebagai informan kunci. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis yang diterapkan meliputi analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami (1987), analisis biaya, analisis penerimaan dan keuntungan, serta analisis kelayakan usaha dengan menggunakan R/C Ratio. Hasil analisis nilai tambah metode Hayami menunjukkan bahwa dalam satu kali proses produksi digunakan 20 kg kedelai sebagai bahan baku yang menghasilkan 350 bungkus keripik tempe dengan berat masing-masing 100 gram. Nilai faktor konversi ini menunjukkan bahwa setiap 1 kg kedelai dapat menghasilkan 17,50 bungkus keripik tempe berukuran 100 gram. Nilai produk yang dihasilkan dari pengolahan keripik tempe mencapai Rp 113.750 per kilogram bahan baku. Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan 1 kg kedelai menjadi keripik tempe sebesar Rp 37.600, dengan rasio nilai tambah sebesar 33,05 persen, yang termasuk dalam kategori nilai tambah sedang karena berada pada kisaran 20–40 persen. Berdasarkan hasil perhitungan biaya, total pengeluaran yang diperlukan dalam satu kali proses produksi keripik tempe mencapai Rp1.932.693,54 Sementara itu, total penerimaan yang diperoleh sebesar Rp2.275.000, sehingga keuntungan yang dihasilkan dalam satu kali siklus produksi adalah Rp 342.306,46. Hasil analisis kelayakan usaha menunjukkan nilai R/C Ratio sebesar 1,18, yang berarti nilai R/C lebih besar dari 1, sehingga usaha pengolahan keripik tempe ini tergolong menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan. Pengembangan IKM Mirah Rejeki masih menghadapi berbagai kendala, terutama penggunaan teknologi yang masih sederhana pada proses pengirisan dan penggorengan sehingga efisiensi produk belum optimal, penerapan standar kebersihan dan sanitasi yang belum maksimal, kualitas kemasan yang masih sederhana sehingga daya simpan dan nilai jual produk rendah, serta kegiatan promosi, pemasaran, dan pengelolaan administrasi keuangan yang belum memanfaatkan teknologi secara optimal. Saran dari penelitian ini adalah : 1). Pelaku usaha IKM Mirah Rejeki disarankan untuk meningkatkan nilai tambah usaha keripik tempe dengan melakukan efisiensi biaya produksi, khususnya pada biaya bahan baku dan bahan penolong. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mencari supplier bahan baku maupun bahan penolong yang menawarkan harga lebih terjangkau namun tetap menjaga kualitas, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan nilai tambah yang dihasilkan dapat meningkat. 2).Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji lebih lanjut mengenai strategi peningkatan nilai tambah dan pengembangan usaha keripik tempe, misalnya melalui analisis rantai pasok bahan baku, strategi pemasaran produk, maupun analisis kelayakan usaha menggunakan metode finansial yang lebih komprehensif seperti NPV, IRR, dan B/C Ratio, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai pengembangan agroindustri keripik tempe.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherUniversitas Islam Malangen_US
dc.subjectKedelaien_US
dc.subjectKeripik Tempeen_US
dc.titleAnalisis Nilai Tambah Kedelai Menjadi Keripik Tempe (Studi Kasus Di IKM Mirah Rejeki Kampung Sanan Malang)en_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record


PRISMA Knowledge Center
Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Islam Malang
Telp: 0341-581613, Fax.: 0341-552249
Jln. MT. Haryono 193, Kota Malang