Efek Antibakteri Kombinasi Ekstrak Kulit Kayu Manis dengan Tetracycline dan Kombinasi Ekstrak Kulit Kayu Manis dengan Clindamycin Terhadap Staphylococcus Aureus
Abstract
Pendahuluan: Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram-positif oportunistik yang dapat menyebabkan berbagai infeksi. Penatalaksanaan infeksi umumnya menggunakan antibiotik, seperti tetracycline dan clindamycin, namun efektivitasnya dapat dipengaruhi oleh meningkatnya resistensi bakteri. Ekstrak kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, eugenol, dan sinamaldehid yang memiliki aktivitas antibakteri sehingga berpotensi berinteraksi dengan antibiotik melalui mekanisme kerja yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek kombinasi ekstrak kulit kayu manis dengan clindamycin maupun tetracycline terhadap Staphylococcus aureus.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik in vitro yang dilakukan di LPRK Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang pada April–Mei 2025. Ekstrak kulit kayu manis diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dan digunakan pada konsentrasi optimum 500.000 ppm, kemudian dikombinasikan dengan clindamycin dan tetracycline menggunakan metode Ameri–Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST). Data diameter zona hambat dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann–Whitney.
Hasil: Kombinasi ekstrak kulit kayu manis dengan clindamycin menghasilkan diameter zona hambat 29,21 ± 3,47 mm yang tidak berbeda bermakna dibandingkan clindamycin (30,82 ± 3,34 mm; p = 0,28). Kombinasi ekstrak kulit kayu manis dengan tetracycline menghasilkan diameter zona hambat 33,66 ± 2,90 mm yang juga tidak berbeda bermakna dibandingkan tetracycline (34,85 ± 2,91 mm; p = 0,28). Berdasarkan interpretasi metode AZDAST, kedua kombinasi tersebut termasuk dalam kategori not distinguishable.
Kesimpulan: Berdasarkan interpretasi metode AZDAST, kombinasi ekstrak etanol kulit Cinnamomum burmannii dengan clindamycin maupun tetracycline belum menunjukkan adanya interaksi yang bermakna terhadap aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Temuan ini mengindikasikan bahwa pada kondisi penelitian yang digunakan, ekstrak kulit C. burmannii belum berpotensi sebagai agen pendamping (adjuvant) untuk meningkatkan efektivitas antibakteri clindamycin maupun tetracycline terhadap S. aureus.
Kata kunci: Cinnamomum burmannii, Staphylococcus aureus, AZDAST, clindamycin, tetracycline.
