Show simple item record

dc.contributor.authorOKTAFIONI, SOVIA
dc.date.accessioned2026-09-29T02:11:45Z
dc.date.available2026-09-29T02:11:45Z
dc.date.issued2026-03-09
dc.identifier.urihttps://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14213
dc.description.abstractABSTRAK Perubahan pola konsumsi masyarakat menuju gaya hidup sehat telah meningkatkan perhatian terhadap pangan fungsional, yaitu pangan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi dasar tetapi juga memberikan manfaat kesehatan tambahan. Tempe sebagai pangan tradisional Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional karena kandungan protein, serat, serta senyawa bioaktif hasil fermentasi yang berkontribusi terhadap kesehatan. Namun, keberhasilan pengembangan tempe fungsional juga ditentukan oleh persepsi nilai, preferensi konsumen, dan kesediaan membayar harga premium. Perbedaan sosial ekonomi antarwilayah dapat mempengaruhi perilaku konsumsi, sehingga analisis spasial menjadi relevan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat preferensi konsumen terhadap pangan fungsional berbasis tempe di Malang dan Kediri; (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi; (3) mengestimasi Willingness to Pay (WTP) konsumen; serta (4) menganalisis perbedaan dan variasi spasial antarwilayah. Penelitian menggunakan pendekatan mix methode yang bersifat dominan kuantitatif dengan data primer dari 200 responden, masing-masing 100 responden di Malang dan 100 responden di Kediri. Analisis preferensi dilakukan menggunakan regresi logit ordinal. Estimasi Willingness to Pay (WTP) dilakukan dengan Contingent Valuation Method (CVM) dan dianalisis lebih lanjut menggunakan regresi Ordinary Least Squares (OLS). Perbedaan antarwilayah diuji menggunakan Mann–Whitney, sedangkan variasi spasial dianalisis dengan Geographically Weighted Regression (GWR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat preferensi konsumen terhadap tempe sebagai pangan fungsional berada pada kategori setuju, dengan rata-rata gabungan sebesar 3,41 pada skala Likert 1–5. Rata-rata preferensi di Kota Malang sebesar 3,43 dan di Kota Kediri sebesar 3,40, yang menunjukkan tingkat penerimaan yang relatif serupa di kedua wilayah. Hal ini menunjukkan konsumen mulai menerima tempe sebagai pangan fungsional, meski keyakinan dan antusiasme terhadap inovasinya masih moderat. Hasil regresi logit ordinal menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi berbeda antarwilayah. Di Malang, variabel pengetahuan (X1), harga (X4), dan gaya hidup (X6) berpengaruh positif signifikan terhadap preferensi, sedangkan informasi produk (X2) dan citra produk (X5) berpengaruh negatif signifikan serta kualitas produk (X3) tidak berpengaruh signifikan. Di Kota Kediri, variabel pengetahuan (X1), harga (X4), dan citra produk (X5) berpengaruh positif signifikan, informasi produk (X2) berpengaruh negatif signifikan, sedangkan kualitas produk (X3) dan gaya hidup (X6) tidak signifikan. Pada model gabungan kedua kota (N=200), variabel pengetahuan (X1), harga (X4), dan kualitas produk (X3) berpengaruh positif signifikan terhadap preferensi, sedangkan informasi produk (X2) berpengaruh negatif signifikan. Variabel citra produk (X5), gaya hidup (X6), dan dummy wilayah (Z) tidak signifikan pada model gabungan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan persepsi harga paling konsisten membentuk preferensi, sementara informasi produk yang kurang efektif dapat menurunkannya. Dari sisi Willingness to Pay (WTP), mayoritas responden menunjukkan kesiapan membayar tambahan harga untuk tempe fungsional. Rata-rata Willingness to Pay (WTP) di Kota Malang sebesar Rp1.510 dengan 86% responden bersedia membayar lebih, sedangkan di Kota Kediri sebesar Rp1.095 dengan 80% responden bersedia membayar. Secara gabungan, rata-rata Willingness to Pay (WTP) sebesar Rp1.302,50 dengan rentang nilai Rp0 hingga Rp5.000, yang menunjukkan adanya heterogenitas persepsi nilai dan sensitivitas harga antarindividu. Hasil regresi Ordinary Least Squares (OLS) menunjukkan bahwa secara simultan seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap Willingness to Pay (WTP) (Prob F-statistic = 0,0070). Namun, secara parsial hanya citra produk dan variabel wilayah yang berpengaruh positif signifikan terhadap besarnya Willingness to Pay (WTP). Citra produk berpengaruh signifikan (p = 0,036), yang menunjukkan bahwa persepsi reputasi dan nilai simbolik yang lebih baik meningkatkan kesediaan konsumen membayar harga lebih tinggi. Variabel wilayah juga signifikan (p = 0,011), ini mengindikasikan bahwa konsumen di Kota Malang cenderung memiliki Willingness to Pay (WTP) lebih tinggi dibandingkan Kediri setelah mengontrol variabel lain. Sementara itu, pengetahuan, informasi produk, kualitas, harga, dan gaya hidup tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Willingness to Pay (WTP). Uji Mann–Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam preferensi antarwilayah, namun terdapat perbedaan signifikan dalam Willingness to Pay (WTP) (U = 3753,000; p = 0,002). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat penerimaan terhadap tempe fungsional relatif homogen, besaran tambahan harga yang bersedia dibayarkan dipengaruhi oleh konteks wilayah. Analisis spasial menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR) menunjukkan adanya indikasi heterogenitas lokal baik pada model preferensi maupun Willingness to Pay (WTP). Pada model preferensi, nilai R² Geographically Weighted Regression (GWR) (0,268) lebih tinggi dibanding OLS (0,232), namun nilai AICc Ordinary Least Squares (OLS) lebih rendah sehingga model global lebih efisien. Pada model Willingness to Pay (WTP), nilai R² Geographically Weighted Regression (GWR) (0,0822) sedikit lebih tinggi dibanding Ordinary Least Squares (OLS) (0,0562), tetapi peningkatan tersebut relatif kecil dan disertai AICc OLS yang tetap lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa variasi spasial dalam Willingness to Pay (WTP) memang ada, namun belum cukup kuat untuk membentuk pola heterogenitas lokal yang dominan, sehingga model global masih lebih representatif sebagai model inferensial utama. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tempe memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional dengan tingkat penerimaan yang moderat dan kesediaan membayar tambahan harga yang cukup baik. Pengetahuan dan persepsi harga berperan penting dalam membentuk preferensi, sedangkan citra produk dan faktor wilayah lebih menentukan dalam membentuk besaran Willingness to Pay (WTP). Oleh karena itu, strategi pengembangan tempe fungsional perlu menekankan edukasi konsumen, penguatan citra produk, serta pendekatan pemasaran yang adaptif berbasis karakteristik wilayah guna meningkatkan daya saing produk dan mendukung pola konsumsi sehat masyarakat.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherUniversitas Islam Malangen_US
dc.subjectKonsumenen_US
dc.subjectPanganen_US
dc.subjectTempeen_US
dc.titlePreferensi Konsumen Terhadap Pangan Fungsional Berbasis Tempe: Pendekatan Analisis Spasial Di Malang Dan Kedirien_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record


PRISMA Knowledge Center
Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Islam Malang
Telp: 0341-581613, Fax.: 0341-552249
Jln. MT. Haryono 193, Kota Malang