| dc.description.abstract | Tahu merupakan salah satu produk olahan kedelai yang berperan penting sebagai sumber protein nabati bagi masyarakat di Indonesia. Dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan sumber protein hewani, tahu menjadi alternatif konsumsi yang banyak diminati oleh berbagai lapisan masyarakat. Tingginya konsumsi tahu menunjukkan perannya yang strategis dalam pemenuhan kebutuhan gizi rumah tangga, khususnya di Provinsi Jawa Timur yang memiliki jumlah penduduk besar dan pola konsumsi pangan yang beragam.
Perbedaan kondisi sosial ekonomi, tingkat pendapatan, serta karakteristik rumah tangga di berbagai wilayah diduga memengaruhi tingkat permintaan tahu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik permintaan tahu rumah tangga serta faktor-faktor yang memengaruhinya di Jawa Timur dengan fokus pada wilayah Malang, Kediri, dan Blitar. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dengan jumlah observasi sebanyak 967 rumah tangga yang telah diseleksi sehingga hanya mencakup rumah tangga pada sentra konsumsi tahu.
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata harga tahu sebesar 12.864,8, harga tempe sebesar 15.216,4, harga telur sebesar 2.128,35, harga beras sebesar 14.370,9, harga daging sapi sebesar 133.331, dan harga minyak goreng sebesar 20.124,5. Rata-rata pengeluaran rumah tangga sebesar 10.870.146, dengan jumlah anggota rumah tangga rata-rata sebesar 3,82 orang. Dari sisi konsumsi, Kediri memiliki rata-rata konsumsi tahu per Rumah tangga per minggu tertinggi dibandingkan Malang dan Blitar, yang menunjukkan adanya variasi pola konsumsi antar wilayah.
Hasil analisis regresi menunjukkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 54,48 persen (R² teradjust 54,00 persen), yang berarti bahwa variabel dalam model mampu menjelaskan 54,48 persen variasi permintaan tahu. Uji simultan menunjukkan nilai F-statistic sebesar 114,41 dengan p-value 0,000, sehingga
seluruh variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap permintaan tahu.
Secara parsial, harga tahu berpengaruh negatif dan signifikan dengan koefisien -0,000036 (p-value 0,000). Harga tempe juga berpengaruh negatif dan signifikan (koefisien -0,000004; p-value 0,002), sedangkan harga telur berpengaruh positif dan signifikan (koefisien 0,000021; p-value 0,001). Harga beras tidak berpengaruh signifikan (p-value 0,536), sementara harga daging sapi berpengaruh negatif dan signifikan (koefisien -0,000001; p-value 0,004). Harga minyak goreng berpengaruh positif dan signifikan (koefisien 0,000013; p-value 0,000). Selain itu, pengeluaran rumah tangga dan jumlah anggota rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan, dengan koefisien jumlah anggota rumah tangga sebesar 0,05688 (p-value 0,000). Variabel dummy wilayah Malang (p-value 0,114) dan Blitar (p-value 0,726) tidak berpengaruh signifikan dibandingkan Kediri.
Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa model regresi telah memenuhi kriteria yang baik, ditunjukkan oleh tidak adanya multikolinearitas (VIF < 10), tidak terdapat heteroskedastisitas berdasarkan grafik residual, serta tidak adanya autokorelasi dengan nilai Durbin-Watson sebesar 2,07289. Selain itu, residual cenderung berdistribusi normal meskipun terdapat sedikit penyimpangan yang masih dapat ditoleransi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor harga komoditas, pengeluaran rumah tangga, dan jumlah anggota keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap permintaan tahu rumah tangga di Jawa Timur, sedangkan perbedaan wilayah tidak berpengaruh signifikan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan terkait stabilitas harga dan pemenuhan kebutuhan pangan berbasis protein nabati. | en_US |