Studi Tentang Elastisitas Permintaan Beras Di Jawa Timur
Abstract
Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam penyediaan pangan pokok nasional. Beras menjadi komoditas vital dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan stabilitas ekonomi masyarakat, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-2 yaitu Zero Hunger. Pemerintah Indonesia telah menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas utama melalui program Asta Cita, menargetkan pencapaian swasembada pangan dalam empat hingga lima tahun mendatang. Meskipun Jawa Timur memiliki produksi beras tinggi mencapai 5,61 juta ton pada tahun 2023, kestabilan harga beras masih menjadi perhatian. Konsumsi beras rumah tangga per kapita per bulan di Jawa Timur menunjukkan tren stabil pada periode 2022-2024, berkisar antara 6,25-6,34 kg. Fenomena ini menunjukkan pentingnya mengkaji elastisitas permintaan beras untuk memahami sejauh mana perubahan harga atau pendapatan mempengaruhi jumlah beras yang diminta oleh rumah tangga di Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penentu permintaan beras serta menghitung elastisitas harga dan pendapatan dengan mempertimbangkan harga substitusi dan karakteristik rumah tangga.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif statistik dan regresi logaritmik. Data penelitian berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2024 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Provinsi Jawa Timur. Sampel penelitian mencakup 25.470 rumah tangga yang memiliki data lengkap untuk seluruh variabel yang dianalisis. Model yang digunakan adalah regresi log-linear (double-log) dengan spesifikasi: lnQd = β₀ + β₁lnP_beras + β₂lnP_jagung + β₃lnP_terigu + β₄lnP_singkong + β₅lnP_ketela_rambat + β₆lnP_talas + β₇lnP_kentang + β₈lnHHsize + β₉lnExpendFood + ε. Model log-linear dipilih karena koefisien regresi dapat diinterpretasikan langsung sebagai elastisitas, mampu menlinearisasi hubungan non-linear, serta mengurangi masalah heteroskedastisitas dan skewness distribusi data. Variabel dependen adalah konsumsi beras (kg), sedangkan variabel independen meliputi harga beras, harga komoditas substitusi, anggota rumah tangga, dan pengeluaran makanan sebagai proksi pendapatan. Analisis data dilakukan menggunakan software R Studio dengan tahapan persiapan data, transformasi logaritma natural, estimasi model regresi OLS, uji asumsi klasik (multikolinearitas, heteroskedastisitas, normalitas), serta visualisasi dan interpretasi hasil. Untuk mengatasi heteroskedastisitas, digunakan robust standard errors (HC1) agar hasil inferensi statistik tetap valid.
Secara simultan, seluruh variabel independen terbukti berpengaruh signifikan terhadap konsumsi beras, sehingga model layak digunakan. Model mampu menjelaskan 53,23% variasi permintaan beras rumah tangga. Secara parsial, variabel signifikan meliputi harga beras, jagung, terigu, ketela rambat, talas, kentang, jumlah anggota rumah tangga, dan pendapatan. Harga singkong tidak berpengaruh signifikan. Dari sisi elastisitas, elastisitas harga beras sebesar -0,4071 menunjukkan permintaan yang inelastis, di mana kenaikan harga 1% menurunkan konsumsi 0,4071%. Elastisitas pendapatan sebesar 0,1448 menempatkan beras sebagai barang normal kebutuhan pokok (0 < Ey < 1). Selanjutnya. Hasil elastisitas silang menunjukkan hubungan komplementer antara beras dan jagung, terigu, ketela rambat, talas, serta kentang. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi beras cenderung diikuti oleh peningkatan konsumsi komoditas sumber karbohidrat lain, bukan sebagai pengganti tetapi sebagai pelengkap dalam pola konsumsi masyarakat. Hasil ini menggambarkan adanya potensi diversifikasi konsumsi pangan sumber karbohidrat di Jawa Timur, karena komoditas tersebut berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti beras. Peningkatan konsumsi karbohidrat lokal bukanlah akibat dari penurunan daya beli, melainkan mencerminkan kesadaran masyarakat terhadap variasi menu dan gizi yang lebih baik. Selain itu, jumlah anggota rumah tangga menjadi faktor paling dominan, dengan elastisitas 0,7029, yang berarti semakin besar keluarga, semakin tinggi konsumsi berasnya.
Berdasarkan penelitian mengenai elastisitas permintaan beras di Jawa Timur ini, beberapa saran dapat diberikan kepada pemerintah, penelitian selanjutnya, dan pengambil kebijakan praktis. Pemerintah perlu memprioritaskan stabilisasi harga melalui penguatan stok cadangan, operasi pasar, regulasi impor, serta penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran seperti program RASTRA, disertai kampanye diversifikasi pangan yang menekankan ketersediaan dan edukasi konsumsi beragam. Penelitian selanjutnya diharapkan meningkatkan kualitas data terkait kategori beras dan menggunakan metode analisis yang lebih kuat, serta memperluas studi ke sisi penawaran dan evaluasi kebijakan terkait stabilitas harga dan pola konsumsi. Bagi pengambil kebijakan praktis, penting melakukan pemantauan elastisitas dan pola konsumsi secara berkala, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta membangun sistem informasi harga beras yang transparan dan real-time guna mendukung keputusan yang lebih rasional dan menjaga stabilitas pasar.
