Analisis Volatilitas Harga Dan Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Harga Bawang Merah Di Indonesia
Abstract
Bawang merah merupakan komoditas hortikultura strategis di Indonesia yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan dan perekonomian nasional. Namun, harga bawang merah sering mengalami fluktuasi tajam yang berdampak pada pendapatan petani, daya beli konsumen, dan stabilitas inflasi. Fluktuasi ini dipicu oleh faktor-faktor seperti produksi yang musiman, ketergantungan impor, harga komoditas substitusi, serta dinamika pasar yang kompleks. Periode 2021–2024 menunjukkan pola volatilitas harga yang berulang, terutama menjelang hari besar keagamaan dan musim panen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat volatilitas harga bawang merah di Indonesia serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, meliputi produksi domestik, volume impor, harga bawang putih, dan harga periode sebelumnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder bulanan periode Januari 2021–Desember 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Pangan Nasional (BAPANAS). Analisis dilakukan dalam dua tahap utama. Pertama, volatilitas harga diukur dengan model ARCH/GARCH untuk mengidentifikasi pola fluktuasi dan tingkat persistensi volatilitas. Kedua, faktor-faktor yang memengaruhi harga dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan variabel independen produksi bawang merah, volume impor, harga bawang putih, dan harga bawang merah periode sebelumnya. Uji asumsi klasik seperti normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi juga dilakukan untuk memastikan keandalan model.
Hasil analisis volatilitas harga bawang merah menggunakan model GARCH (1,20) menunjukkan bahwa nilai persistensi volatilitas (α + β) sebesar 0,325354, yang berada jauh di bawah ambang batas 0,70. Nilai ini mengindikasikan bahwa volatilitas harga bawang merah selama periode 2021–2024 tergolong rendah, sehingga guncangan harga yang terjadi di pasar bawang merah bersifat sementara dan cepat mereda. Dengan kata lain, fluktuasi harga yang muncul tidak membentuk pola volatility clustering yang berkepanjangan, di mana periode volatilitas tinggi diikuti oleh volatilitas tinggi pada periode berikutnya. Kondisi ini menunjukkan adanya kecenderungan mean reversion, yaitu harga bawang merah cenderung kembali ke nilai keseimbangan jangka panjang setelah mengalami shock. Rendahnya tingkat persistensi volatilitas ini dapat mencerminkan peran kebijakan pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan, baik melalui pengelolaan stok maupun intervensi perdagangan, serta adanya penyesuaian mekanisme pasar yang relatif cepat dalam merespons perubahan permintaan dan penawaran. Meskipun demikian, volatilitas yang rendah pada tingkat agregat nasional tidak berarti bahwa fluktuasi harga tidak dirasakan oleh pelaku usaha di tingkat mikro, khususnya petani dan pedagang kecil, yang tetap menghadapi risiko harga akibat perbedaan waktu panen, keterbatasan akses pasar, dan variasi harga antarwilayah. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa harga bawang merah di Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal pasar dan kebijakan perdagangan. Variabel harga bawang merah periode sebelumnya terbukti sebagai faktor yang paling dominan dan berpengaruh signifikan terhadap harga saat ini dengan koefisien positif sebesar 0,673, yang mengindikasikan bahwa pembentukan harga bawang merah bersifat backward-looking. Kondisi ini mencerminkan bahwa pelaku pasar menggunakan informasi harga masa lalu sebagai dasar dalam membentuk ekspektasi harga, sehingga perubahan harga pada satu periode cenderung berlanjut ke periode berikutnya meskipun tidak selalu disertai perubahan fundamental pada sisi produksi maupun permintaan. Selain itu, volume impor bawang merah juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga bawang merah, yang menunjukkan bahwa peningkatan impor cenderung terjadi sebagai respons terhadap kenaikan harga domestik yang telah berlangsung sebelumnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebijakan impor bawang merah di Indonesia masih bersifat reaktif dan belum sepenuhnya berfungsi sebagai instrumen stabilisasi harga yang bersifat preventif. Selanjutnya, harga bawang putih sebagai komoditas substitusi memiliki pengaruh positif terhadap harga bawang merah pada tingkat signifikansi 10%, yang menegaskan adanya hubungan substitusi antar-komoditas hortikultura, di mana kenaikan harga bawang putih mendorong peralihan konsumsi ke bawang merah sehingga meningkatkan permintaan dan harga bawang merah. Sementara itu, produksi bawang merah domestik tidak berpengaruh signifikan terhadap harga, yang mengindikasikan bahwa perubahan produksi belum mampu secara langsung memengaruhi harga di tingkat konsumen. Kondisi ini diduga disebabkan oleh permintaan bawang merah yang relatif inelastis, panjangnya rantai distribusi, serta adanya peran impor sebagai penyangga pasokan, sehingga fluktuasi produksi domestik lebih banyak diserap pada tingkat perantara dan tidak sepenuhnya tercermin pada perubahan harga akhir di pasar.
Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa volatilitas harga bawang merah di Indonesia periode 2021–2024 tergolong rendah dengan persistensi (α+β) sebesar 0,325354, yang mengindikasikan bahwa guncangan harga bersifat sementara dan pasar mampu menyerap gangguan dengan cepat; sementara itu, faktor yang paling signifikan memengaruhi harga adalah harga periode sebelumnya yang mencerminkan sifat pasar yang backward-looking, diikuti oleh volume impor yang memiliki hubungan positif sebagai cerminan kebijakan impor yang reaktif, serta harga bawang putih sebagai komoditas substitusi pada tingkat signifikansi 10%, sedangkan produksi domestik tidak berpengaruh signifikan diduga karena permintaan yang inelastis dan panjangnya rantai distribusi. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan bagi pemerintah untuk menggeser kebijakan impor dari pendekatan reaktif menjadi proaktif berbasis sistem peringatan dini yang mengintegrasikan proyeksi produksi dan stok, serta melakukan stabilisasi harga yang terpadu dengan komoditas substitusi seperti bawang putih; sementara bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas variabel penelitian dengan memasukkan faktor nilai tukar dan iklim, menggunakan data frekuensi lebih tinggi, serta mengombinasikan pendekatan kualitatif untuk memahami dinamika perilaku pelaku pasar secara lebih komprehensif.
