Pengaruh Pemangkasan Dan Dosis Pupuk Biokompleks Terhadap Pertumbuhan, Hasil Dan Kualitas Tanaman Terong Ungu (Solanum Melongena L.)
Abstract
Terong ungu (Solanum melongena L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang umum dikonsumsi oleh masyarakat, biasa dijadikan lalapan atau diolah menjadi makanan, selain memilki nutrisi yang baik untuk tubuh, terong juga merupakan salah satu jenis terong yang mempunyai nilai ekonomi tinggi diantara jenis terong lainnya. Produksi terong ungu di Indonesia mengalami penurunan, sementara permintaan masyarakat terhadap sayuran ini terus meningkat. Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi dan kualitas hasil tanaman adalah teknik budidaya, termasuk pemangkasan dan pemupukan. Pemangkasan dapat mengoptimalkan distribusi nutrisi dan meningkatkan jumlah cabang produktif, sedangkan pupuk biokompleks berperan dalam menyediakan unsur hara esensial bagi tanaman, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemangkasan dan dosis pupuk biokompleks terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas tanaman terong ungu.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni–Agustus 2024 di kebun percobaan Jl. Karyawiguna No.370, Babatan, Tegalgondo, Kecamatan Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor 1 jenis pemangkasan (M) terdiri atas 3 level yaitu: M0= Kontrol (tidak dipangkas), M1= Pucuk batang utama, M2= Pucuk cabang primer. Faktor 2 dosis pupuk biokompleks (B), terdiri dari 3 level yaitu: B0= Kontrol (tidak dipupuk), B1= Dosis pupuk 10 ton/ha, B2= Dosis pupuk 15 ton/ha. Kedua faktor tersebut didapat 9 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Setiap perlakuan terdapat 4 tanaman sehingga didapatkan 108 polybag. Data yang diperoleh kemudian dilakukan uji F (ANOVA), dan dilakukan uji lanjut BNJ 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan pucuk batang utama dan pucuk cabang primer tidak menunjukkan perbedaan nyata dalam meningkatkan jumlah cabang produktif pada dosis pupuk biokompleks 10 ton/ha dan 15 ton/ha, namun pemangkasan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan bobot buah pada kedua tingkat pemupukan. Secara terpisah, pemangkasan pucuk batang utama dan pucuk cabang primer tidak menunjukkan perbedaan nyata dalam meningkatkan jumlah cabang produktif, selain itu jumlah dan luas daun, diameter buah, serta kualitas klorofil daun pada kedua jenis pemangkasan memberikan hasil yang baik. Pemupukan biokompleks 10 ton/ha maupun 15 ton/ha tidak menunjukkan perbedaan nyata dalam pertumbuhan jumlah cabang produktif, jumlah daun, dan luas daun. Selain itu, panjang dan diameter buah, kualitas klorofil daun, serta total padatan terlarut pada kedua dosis pemupukan menunjukkan hasil yang setara.
