Respon Perkecambahan Benih Dan Pertumbuhan Bibit Sengon (Enterolobium Cyclocarpum) Akibat Suhu Air Dan Lama Perendaman
Abstract
Sengon (Enterolobium cyclocarpum) adalah tanaman tropis yang cepat tumbuh dan banyak dimanfaatkan, terutama untuk bahan baku industri kayu. Produktivitasnya menurun akibat pengelolaan hutan rakyat yang kurang optimal. Upaya peningkatan produktivitas sengon salah satunya melalui penyediaan bibit yang berkualitas. Sementara itu, salah satu kendala dalam pembibitan sengon adalah dormansi benih akibat kulit biji yang keras. Perlu adanya perlakuan khusus untuk mematahkan dormansi. Perendaman benih dalam air panas merupakan metode umum untuk mematahkan dormansi dan meningkatkan daya kecambah. Lama waktu perendaman berpengaruh terhadap keberhasilan perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit akibat suhu air dan lama perendaman.
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April – Juni 2025 di lahan pekarangan yang berlokasi di Desa Sumbersuko, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur dengan ketinggian 450 mdpl. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah suhu air yang terdiri dari 4 level yaitu: S_0 = suhu 27 ℃, S_1 = suhu 80 ℃, S_2 = suhu 90 ℃, S_3 = suhu 100 ℃, sedangkan faktor kedua adalah lama perendaman yang terdiri dari 3 level yaitu: L_1 = perendaman 12 jam, L_2 = perendaman 24 jam, L_3 = perendaman 36 jam. Kedua faktor didapat 12 kombinasi perlakuan. Masing-masing perlakuan tersebut diulang sebanyak 3 kali dengan 10 benih sampel untuk fase perkecambahan dan 4 sampel untuk pertumbuhan bibit. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (uji F) dengan taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ).
Penelitian ini menunjukkan bahwa benih sengon memberikan respon perkecambahan dan pertumbuhan bibit sengon yang baik akibat interaksi suhu air dan lama perendaman. Kombinasi suhu air 100°C dengan perendaman selama 36 jam menghasilkan daya kecambah tertinggi sebesar 80%. Sementara itu, meningkatkan suhu 80 °C hingga 100 °C dengan lama perendaman 12 sampai 36 lebih baik dibandingkan suhu kamar dengan lama perendaman yang sama. Secara terpisah, peningkatan suhu air dari 80°C ke 100°C terbukti lebih efektif dalam meningkatkan laju perkecambahan dan berbagai parameter pertumbuhan, seperti tinggi tanaman, jumlah dan luas daun, serta panjang akar, dibandingkan dengan perendaman pada suhu kamar. Demikian pula pada Perendaman selama 24 dan 36 jam terbukti lebih efektif dalam meningkatkan laju kecambah, panjang radikula, tinggi tanaman, dan luas daun dibandingkan perendaman 12 jam, Sedangkan pada jumlah daun, perendaman 36 jam menghasilkan jumlah daun terbanyak.
