Analisis Agribisnis Singkong Di Desa Gading Kembar Kecamatan Jabung Kabupaten Malang
Abstract
Desa Gading Kembar merupakan salah satu desa di Kecamatan Jabung yang masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, termasuk petani singkong. Memiliki hasil produksi singkong yang melimpah, namun nilai yang diterima dirasa belum memuaskan bagi petani. pengolahan singkong menjadi keripik singkong yang dikelola masyarakat masih menggunakan teknologi yang sederhana. Subsistem pengolahan menjadi salah satu tempat bagi para petani dalam memasarkan produknya dengan nilai yang lebih baik. Subsistem pemasaran menjadi aspek penting dimana petani dan produsen keripik dapat menyalurkan produknya kepada konsumen, namun dengan permintaan pasar yang fluktuatif. Penelitian ini berfokus pada tiga susbsitem agribisnis yaitu, usahatani, pengolahan dan pemasaran. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui subsistem agribisnis singkong yang terjadi di Desa Gading Kembar meliputi 1) kelayakan usahatani, 2) nilai tambah keripik singkong, dan 3) saluran pemasaran singkong dan keripik singkong.
Desa Gading Kembar dipilih secara sengaja (purposive) sebagai lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Januari - Februari 2025. Pengambilan sampel usahatani dilakukan dengan metode sensus sampling, dimana keseluruhan jumlah populasi sekaligus menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Sedangkan untuk penentuan sampel agroindustri keripik singkong dilakukan secara purposive sampling dengan peneliti menentukan kriteria agroindustri dengan kapasitas produksi lebih dari 100 kg serta beroperasi lebih dari dua tahun, dan snowball sampling untuk pemasaran. Metode analisis yang dilakukan adalah dengan menganalisis kelayakan usahatani melalui R/C Ratio, nilai tambah keripik singkong dengan Metode Hayami dan untuk menjawab tujuan ketiga, dilakukan analisis secara deskriptif dengan pengumpulan data melalui petani singkong dan pelaku agroindustri untuk memetakan pelaku usaha yang terlibat dalam saluran distribusi pemasaran singkong basah dan keripik singkong.
Hasil rata-rata pendapatan petani singkong Rp47.289.209/Ha/MT dengan penerimaan Rp64.114.114/Ha/MT dan biaya produksi usahatani sebesar Rp16.824.905/Ha/MT serta dengan nilai R/C Ratio 3,81. Sehingga dapat diartikan bahwa usahatani singkong di Desa Gading Kembar memberikan keuntungan dan layak dikembangkan karena perolehan nilai R/C Ratio >1. Artinya, setiap Rp1,00 pengeluaran dalam usahatani singkong memberikan penerimaan sebanyak Rp3,81 terhadap besarnya pengeluaran yang digunakan. Nilai tambah olahan singkong menjadi keripik singkong di agroindustri Rakhim Desa Gading Kembar menghasilkan nilai Rp9.062/kg, dengan nilai tambah rasio sebesar 65%. Artinya dari nilai output Rp9.062 per kg terdapat 65% nilai tambah dari output keripik singkong. Nilai tambah keripik singkong Rakhim tergolong tinggi karena nilai tambah lebih dari 40%. Sedangkan R/C Ratio dalam pengolahan keripik singkong adalah 2,33 sehingga usaha pengolahan keripik singkong menguntungkan dan layak untuk dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi pemasaran singkong dalam penelitian ini terbagi ke dalam empat saluran utama, yaitu (I) Petani - Industri, (II) Petani - Pedagang Besar - Industri, (III) Petani - Pedagang Besar - Pedagang Luar Kota, dan (IV) Petani - Pedagang Besar - Pedagang Pengecer – Konsumen. Saluran pemasaran keripik singkong terdiri dari tiga saluran. Saluran I adalah dari produsen kemudian pedagang pengecer kemudian konsumen, Saluran II adalah produsen kemudian pedagang Grosir kemudian Konsumen, Saluran III dari Produsen kemudian Pedagang Besar kemudian Konsumen. Pemasaran dengan saluran pendek lebih menguntungkan dan lebih efisien.
Berdasarkan hasil penelitian, maka petani diharapkan memaksimalkan penggunaan sarana produksi sesuai standar yang dianjurkan oleh pemerintah dan instansi terkait untuk meningkatkan keuntungan. Selain itu, perlu dikembangkan produk unggulan berbahan baku singkong selain keripik singkong. Produsen keripik singkong disarankan untuk terus berinovasi dengan mempertahankan kualitas, mengembangkan kemasan menarik, menambah variasi rasa, serta meningkatkan pemasaran, terutama secara online. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan melalui penyuluhan dan pengenalan sistem agribisnis agar petani dapat meningkatkan pendapatan. Selain itu, pembentukan kelembagaan pemasaran diperlukan untuk membantu petani dalam pemasaran serta mendorong sistem kontrak dengan perusahaan.
