Analisis Permintaan Dan Penawaran Kedelai Di Indonesia
Abstract
Kedelai merupakan komoditas strategis sebagai sumber utama protein nabati di Indonesia, yang banyak dikonsumsi dalam bentuk produk olahan seperti tempe, tahu, susu kedelai, dan produk lainnya. Meskipun tingkat konsumsi terhadap kedelai sangat tinggi, produksi dalam negeri belum memenuhi kebutuhan tersebut secara optimal. Akibatnya, Indonesia masih bergantung pada impor untuk mencukupi kekurangan pasokan kedelai. Ketergantungan terhadap impor kedelai menyebabkan kerentanan terhadap fluktuasi harga internasional, yang berdampak langsung terhadap stabilitas harga kedelai didalam negeri serta memengaruhi ketahanan pangan nasional. Faktor yang menjadi penghambat peningkatan produksi kedelai nasional antara lain rendahnya produktivitas lahan, keterbatasan akses terhadap teknologi pertanian modern, kurangnya penggunaan benih unggul, serta maraknya alih fungsi lahan pertanian ke sektor nonpertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan dan penawaran kedelai di Indonesia.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan lokasi yang ditentukan secara purposive method. Data yang digunakan merupakan data time series tahun 2003–2023 yang diperoleh dari sumber resmi, seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Food and Agriculture Organization (FAO). Metode analisis yang digunakan adalah regresi persamaan simultan dengan teknik Two Stage Least Squares (2SLS).
Berdasarkan hasil penelitian mengenai permintaan dan penawaran kedelai di Indonesia, bahwa permintaan kedelai menunjukkan bahwa pendapatan per kapita dan jumlah penduduk secara simultan berpengaruh signifikan terhadap permintaan kedelai (p-value = 0,001) dengan nilai R² sebesar 87,3%, yang menandakan kekuatan prediksi model sangat baik. Namun, uji parsial menunjukkan bahwa hanya jumlah penduduk yang berpengaruh signifikan, sedangkan pendapatan per kapita tidak signifikan. Hal ini mendukung temuan penelitian terdahulu bahwa kedelai merupakan barang kebutuhan pokok yang relatif inelastis terhadap pendapatan, sehingga perubahannya tidak memengaruhi konsumsi secara signifikan.
Pada penawaran kedelai menunjukkan bahwa harga kedelai domestik dan biaya produksi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap penawaran kedelai (p-value = 0,007) dengan nilai R² sebesar 46,9%. Secara parsial, harga kedelai domestik berpengaruh signifikan namun negatif terhadap penawaran, menunjukkan bahwa kenaikan harga justru diikuti penurunan penawaran. Sementara itu, biaya produksi tidak berpengaruh signifikan terhadap penawaran. Dengan demikian, peningkatan produksi kedelai dalam negeri menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan menjaga stabilitas pasar. Upaya Penguatan dan penyebaran teknologi budidaya kedelai modern harus diintensifkan, dengan program pelatihan dan pendampingan petani yang berkelanjutan serta penyediaan akses benih unggul dan input pertanian berkualitas. Program adopsi teknologi ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi kedelai.
