Performa Shoot-Root Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Fase Main Nursery Perlakuan Nanokompos Tandan Kosong Kelapa Sawit Dan Pupuk Anorganik Pada Dua Jenis Tanah
Abstract
Tanaman sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas perkebunan strategis di Indonesia yang berperan besar sebagai penyumbang devisa negara, seiring meningkatnya permintaan minyak sawit dunia untuk kebutuhan biodiesel dan industri pangan. Produktivitas kelapa sawit sangat ditentukan sejak fase pembibitan, terutama pada tahap main nursery, karena kualitas bibit berpengaruh terhadap pertumbuhan pada fase tanaman belum menghasilkan (TBM) hingga tanaman menghasilkan (TM). Selama ini, pemupukan anorganik intensif digunakan untuk memenuhi kebutuhan hara, namun penggunaan berkelanjutan berpotensi menurunkan kualitas tanah dan menimbulkan dampak lingkungan. Di sisi lain, industri sawit menghasilkan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dalam jumlah besar yang berpotensi dimanfaatkan sebagai kompos untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta meningkatkan ketersediaan hara dan kelembaban media tanam, terutama bagi tanaman yang berakar dangkal dan rentan cekaman kekeringan. Inovasi nanoteknologi melalui nanokompos TKKS diharapkan mampu mempercepat dekomposisi dan meningkatkan efisiensi pemupukan dibandingkan kompos konvensional, khususnya pada tanah marginal seperti Ultisol (Hapludults) dan Inceptisol (Dystrudepts). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menguji performa shoot-root bibit kelapa sawit fase main nursery pada perlakuan nanokompos TKKS dan pupuk anorganik guna mendukung sistem pembibitan yang lebih produktif dan berkelanjutan..
Penelitian ini dilaksanakan pada Maret – Oktober 2025 di greenhouse Dusun Jewo, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur (±350 mdpl), menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor, yaitu jenis tanah (S1: Ultisol; S2: Inceptisol) dan macam pupuk (T0: tanpa pemupukan; T1: 100% pupuk anorganik; T2: 100% pupuk nanokompos), sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang 5 kali dengan 3 sampel per ulangan (total 90 tanaman). Variabel yang diamati meliputi berat segar dan berat kering total, berat segar dan kering akar (root) dan tajuk (shoot), rasio shoot-root, panjang akar, volume akar, serta distribusi perakaran. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) taraf 5%, dan apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNT taraf 5% untuk membedakan antar perlakuan.
Berdasarkan hasil analisis statistic ANOVA dan uji BNT 5% menunjukkan bahwa Performa pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) yang diukur dari parameter berat segar total, berat kering total, berat segar akar, berat kering akar, volume akar, berat segar shoot, berat kering shoot, dan rasio shoot root lebih baik pada tanah Ultisol dibandingkan dengan tanah Inceptisol.
Rasio shoo-root bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) fase main nursery pada perlakuan 100% pemupukan nanokompos dan 100% pupuk anorganik pada parameter berat segar total, berat kering total, berat segar akar, berat kering akar, volume akar, berat segar shoot, berat kering shoot, dan rasio shoot root memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol (tanpa pemupukan). Tetapi pada parameter panjang akar perlakuan dengan pemberian 100% pupuk nanokompos memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan pemberian 100% pupuk anorganik dan kontrol (tanpa pemupukan). Peningkatan shoot tertinggi bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) fase main nursery pada tanah Ultisol ditemukan pada perlakuan 100% pupuk anorganik, sedangkan pada tanah Inceptisol, penambahan 100% pupuk nanokompos memberikan presentase peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.
