Pengaruh Fertigasi Dan Irigasi Tetes Dengan Kontrol Iot Terintegrasi Solar Energy Terhadap Kualitas Hasil Dan Vegetasi Gulma Tanaman Pakcoy (Brassica Rapa L.)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sistem fertigasi dan irigasi tetes dengan kontrol IoT berbasis solar energy terhadap kualitas hasil panen serta vegetasi gulma tanaman pakcoy dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Oktober 2025 di lahan persawahan Jl. Green Tombro, Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada ketinggian sekitar 500 mdpl dengan suhu rata-rata 24–30°C dan kelembapan udara 70–85%. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) sederhana dengan dua perlakuan, yaitu sistem fertigasi dan irigasi tetes berbasis IoT terintegrasi panel surya (P1) serta sistem pemupukan dan irigasi konvensional (P2). Masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan dengan 30 tanaman per ulangan sehingga total terdapat 180 tanaman. Sistem IoT yang dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32-DEVKITC-32U, sensor tanah 7-in-1, sensor ultrasonik, sensor water flow, sensor DHT22, modul relay, MPPT solar charge controller, serta antarmuka website monitoring yang dapat dioperasikan secara lokal maupun jarak jauh melalui sistem penjadwalan berbasis website.
Variabel yang diamati meliputi variabel kualitas tanaman secara destruktif pada saat panen, yaitu total padatan terlarut, kandungan klorofil a, klorofil b, karotenoid, vitamin C, serta kadar abu. Selain itu, dilakukan analisis vegetasi gulma menggunakan metode kuadran berukuran 50 cm × 50 cm yang dilempar secara acak sebanyak dua kali pada masing-masing ulangan pada lahan perlakuan. variabel vegetasi gulma yang dianalisis meliputi frekuensi relatif (FR), dominansi relatif (DR), Indeks Nilai Penting (INP), dan Summed Dominance Ratio (SDR) untuk setiap jenis gulma yang ditemukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem IoT memberikan pengaruh nyata hanya pada variabel kadar abu tanaman pakcoy. Rerata kadar abu pada perlakuan IoT mencapai 26,31% dan berbeda signifikan dibandingkan sistem konvensional sebesar 20,48% (P = 0,030). Sementara itu, variabel kualitas lainnya seperti vitamin C, klorofil a, klorofil b, karotenoid, dan total padatan terlarut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua perlakuan. Pada aspek vegetasi gulma, teridentifikasi sebanyak 10 jenis gulma yang tumbuh pada kedua sistem budidaya. Spesies gulma yang paling dominan adalah Panicum repens, yang terlihat dari bobot kering Panicum repens pada sistem IoT sebesar 45,31 g, jauh lebih rendah dibandingkan sistem konvensional sebesar 148,53 g. Nilai INP Panicum repens pada sistem IoT mencapai 93,87% (SDR 46,94%), lebih tinggi dibandingkan pada sistem konvensional sebesar 78,28% (SDR 39,14%). Sebaliknya, gulma Cyperus rotundus menunjukkan dominansi yang lebih tinggi pada sistem konvensional dengan nilai SDR 18,01% dibandingkan pada sistem IoT sebesar 11,49%.
