Determinan Inefisiensi Teknis Usahatani Jagung Di Desa Bringin Kecamatan Wajak Kabupaten Malang
Abstract
Jagung merupakan salah satu komoditas strategis dalam sektor pertanian Indonesia yang berperan penting sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Permintaan jagung yang terus meningkat menuntut adanya peningkatan produksi secara efisien. Namun, pada tingkat petani masih sering dijumpai permasalahan produktivitas yang belum optimal akibat penggunaan faktor produksi yang belum efisien. Kabupaten Malang, khususnya Desa Bringin Kecamatan Wajak, merupakan salah satu sentra produksi jagung yang memiliki potensi besar, namun produktivitasnya masih berfluktuasi. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya inefisiensi teknis dalam kegiatan usahatani jagung. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengukur tingkat efisiensi teknis usahatani jagung di Desa Bringin, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, dan (2) menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi yang menjadi determinan inefisiensi teknis usahatani jagung.
Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2025 dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari 50 petani jagung sebagai responden, yang dipilih secara acak dari total populasi sebanyak 250 petani. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian, serta berbagai literatur pendukung. Metode analisis yang digunakan adalah Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Variabel input yang dianalisis meliputi luas lahan, benih, pupuk kandang, pupuk phonska, pupuk urea, tenaga kerja, dan pestisida. Sementara itu, faktor-faktor yang dianalisis sebagai determinan inefisiensi teknis meliputi umur petani, tingkat pendidikan, dan pengalaman bertani. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak Frontier 4.1.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efisiensi teknis usahatani jagung di Desa Bringin berada pada kisaran 0,321 hingga 0,998 dengan nilai rata-rata sebesar 0,685. Nilai tersebut menunjukkan bahwa secara umum petani jagung di Desa Bringin belum efisien secara teknis dan masih memiliki peluang untuk meningkatkan produksi sekitar 31,5 persen tanpa menambah input produksi. Nilai parameter gamma (γ) yang mendekati satu menunjukkan bahwa variasi produksi jagung sebagian besar disebabkan oleh perbedaan tingkat efisiensi teknis antarpetani, bukan oleh faktor eksternal.
Hasil estimasi fungsi produksi menunjukkan bahwa variabel luas lahan, benih, pupuk urea, dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi jagung. Sementara itu, pupuk kandang berpengaruh negatif terhadap produksi, yang mengindikasikan bahwa penggunaannya belum sesuai dengan dosis dan rekomendasi teknis. Variabel pupuk phonska dan pestisida tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi jagung.
Analisis faktor-faktor inefisiensi teknis menunjukkan bahwa umur petani dan tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap inefisiensi teknis, sedangkan pengalaman bertani berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama pengalaman bertani, maka semakin efisien petani dalam mengelola usahatani jagung, sedangkan keterbatasan pendidikan formal dan bertambahnya umur cenderung meningkatkan inefisiensi teknis apabila tidak diimbangi dengan adopsi teknologi dan penyuluhan yang memadai.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa usahatani jagung di Desa Bringin masih menghadapi permasalahan inefisiensi teknis yang cukup signifikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan efisiensi melalui penguatan penyuluhan pertanian, peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani, optimalisasi penggunaan input produksi, serta dukungan kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan usahatani jagung yang berkelanjutan.
Selain faktor teknis produksi, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa aspek sosial ekonomi petani memiliki peranan penting dalam menentukan tingkat efisiensi teknis usahatani jagung. Rendahnya tingkat pendidikan formal petani menyebabkan keterbatasan dalam memahami teknologi budidaya, dosis pemupukan yang tepat, serta manajemen usahatani yang efisien. Kondisi ini berdampak pada pengambilan keputusan yang kurang optimal dalam penggunaan input produksi, sehingga meningkatkan tingkat inefisiensi teknis. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pengetahuan petani menjadi faktor kunci dalam upaya peningkatan efisiensi usahatani jagung.
Peran pengalaman bertani terbukti mampu menekan tingkat inefisiensi teknis, karena pengalaman memungkinkan petani untuk memahami kondisi lahan, pola tanam, serta waktu penggunaan input yang tepat berdasarkan pembelajaran dari musim tanam sebelumnya. Petani dengan pengalaman bertani yang lebih lama cenderung lebih mampu mengantisipasi risiko produksi, seperti serangan hama dan perubahan cuaca, serta lebih efisien dalam mengalokasikan faktor produksi. Namun demikian, pengalaman bertani akan memberikan dampak yang lebih optimal apabila diimbangi dengan keterbukaan petani terhadap inovasi dan teknologi pertanian yang berkembang.
Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa belum optimalnya peran penyuluhan pertanian dan kelembagaan petani turut berkontribusi terhadap terjadinya inefisiensi teknis. Intensitas penyuluhan yang masih terbatas serta rendahnya partisipasi petani dalam kegiatan kelompok tani menyebabkan lambatnya adopsi teknologi dan praktik budidaya yang lebih efisien. Penguatan kelembagaan pertanian di tingkat desa diharapkan mampu menjadi sarana pembelajaran bersama, pertukaran informasi, serta peningkatan kemampuan manajerial petani dalam mengelola usahatani jagung secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan produksi jagung di Desa Bringin tidak hanya bergantung pada penambahan input produksi, tetapi lebih pada perbaikan efisiensi teknis melalui pengelolaan usahatani yang lebih baik. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan pihak terkait lainnya dalam merumuskan kebijakan dan program pengembangan usahatani jagung yang berorientasi pada peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
