Analisis Sosial Ekonomi Dan Iklim Terhadap Produktivitas Cabai Rawit (Studi Kasus: Desa Sidodadi, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang)
Abstract
Cabai rawit merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Produktivitas cabai rawit dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari kondisi sosial ekonomi petani, iklim maupun perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aspek sosial ekonomi terhadap produktivitas cabai rawit, mengetahui persepsi petani terhadap perubahan iklim, serta menganalisis iklim terhadap produktivitas cabai rawit di Desa Sidodadi, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Studi sebelumnya hanya meneliti faktor-faktor sosial ekonomi dan iklim dalam analisis terpisah. Namun penelitian ini menyajikan hal baru dengan mengkaji secara bersamaan faktor sosial ekonomi petani dan iklim terhadap produktivitas cabai rawit.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode wawancara responden. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan probability sampling dengan teknik Simple Random Sampling menggunakan rumus slovin. Dari 97 responden, diperoleh sebanyak 50 responden. Data primer diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada petani cabai rawit, sedangkan data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Kabupaten Malang. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan perangkat lunak Rstudio untuk menguji pengaruh faktor sosial ekonomi dan iklim terhadap produktivitas cabai rawit. Variabel sosial ekonomi meliputi tingkat pendidikan, lama bertani, status kepemilikan lahan, sumber modal, dan biaya produksi, sedangkan variabel iklim meliputi curah hujan, suhu, dan kelembaban udara. Uji yang dilakukan pada kedua model yakni uji koefisien determinasi, uji t, uji F, uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas. Untuk persepsi pada skala likert, diberlakukan uji validitas dan uji reliabilitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas cabai rawit. Secara parsial, lama bertani dan status kepemilikan lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas, sedangkan tingkat pendidikan, sumber modal, dan biaya produksi tidak berpengaruh signifikan. Dibuktikan dengan hasil regresi bahwa variabel lama bertani memperoleh nilai koefisien sebesar 121,97 dengan tanda positif, yang bermakna bahwa setiap penambahan satu tahun pengalaman bertani akan meningkatkan produktivitas cabai rawit sebesar 121,97 kg/ha, dengan asumsi variabel lain dianggap konstan (ceteris paribus). Sedangkan pada variabel status kepemilikan lahan memiliki koefisien sebesar 2542,34 dengan nilai signifikansi sebesar 0,0213 yang lebih kecil dari α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas cabai rawit rawit. Nilai koefisien yang positif mengindikasikan bahwa petani yang mengusahakan lahan milik sendiri memiliki produktivitas rata-rata sebesar 2542,34 kg/ha lebih tinggi dibandingkan petani yang mengusahakan lahan sewa.
Persepsi petani terhadap perubahan iklim tergolong tinggi, setelah ditinjau dari hasil olah data kuisioner dan dapat dibuktikan bahwa sebagian besar responden menyatakan setuju bahwa curah hujan, suhu, dan kelembaban berpengaruh terhadap produktivitas cabai rawit. Hal ini menunjukkan bahwa petani secara langsung merasakan dampak perubahan iklim dalam kegiatan usahatani. Jika dibandingkan dengan hasil regresi, terdapat perbedaan antara hasil statistik dan persepsi petani, khususnya pada variabel suhu dan kelembaban. Dalam model regresi, kedua variabel tersebut tidak signifikan, namun dalam persepsi petani justru dianggap berpengaruh. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pendekatan statistik dan pengalaman empiris petani memiliki sudut pandang yang berbeda. Perbedaan antara hasil regresi dan persepsi petani menunjukkan adanya kesenjangan antara pendekatan kuantitatif dan kondisi empiris di lapangan. terutama pada aspek curah hujan yang memperoleh nilai persepsi tertinggi disusul dengan variabel suhu kemudian variabel kelembaban.
Sementara itu, hasil analisis iklim menunjukkan bahwa secara simultan suhu, dan kelembaban tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas cabai rawit. Namun secara parsial, curah hujan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas, sedangkan suhu dan kelembaban tidak berpengaruh signifikan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa produktivitas cabai rawit lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal petani, terutama pengalaman bertani dan penguasaan lahan, dibandingkan faktor iklim. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil analisis regresi yang menunjukan bahwa variabel curah hujan menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,0372 atau lebih kecil dari taraf 5% (α = 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa curah hujan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas cabai rawit. Curah hujan yang tinggi umumnya menyebabkan kelembaban lahan meningkat sehingga akar tanaman rentan mengalami pembusukan dan penyerapan unsur hara menjadi tidak optimal. Selain itu, tingginya curah hujan juga dapat meningkatkan intensitas serangan hama dan penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada menurunnya produktivitas tanaman cabai rawit.
