Analisis Fluktuasi Harga Komoditas Pangan Strategis Dan Pengaruhnya Terhadap Inflasi Di Jawa Timur
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran strategis sektor pangan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dan regional, dengan Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu sentra produksi utama di Indonesia yang memiliki kontribusi signifikan terhadap PDRB. Namun, wilayah ini juga mengalami fluktuasi harga komoditas pangan strategis yang tajam, terutama pada periode hari besar keagamaan dan perubahan musim yang berpotensi memicu tekanan inflasi. Meskipun sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji hubungan harga pangan dan inflasi, terdapat kesenjangan (research gap) dalam konteks Jawa Timur, khususnya kajian empiris yang menggunakan pendekatan dinamis untuk membedakan pengaruh jangka pendek dan panjang serta yang mencakup periode pascapandemi 2020–2024. Oleh karena itu, novelty penelitian ini terletak pada penerapan model ekonometrika Vector Error Correction Model (VECM) untuk menganalisis hubungan kausal dan dinamis antara fluktuasi harga lima komoditas pangan strategis (beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan cabai rawit) terhadap tingkat inflasi di Jawa Timur. Tujuan penelitian adalah untuk: (1) menganalisis perkembangan harga kelima komoditas tersebut selama periode 2020–2024; dan (2) menganalisis pengaruh fluktuasi harga komoditas tersebut terhadap inflasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder runtun waktu (time series) bulanan periode Januari 2020 hingga Desember 2024, yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), dan Bank Indonesia. Metode analisis data meliputi dua bagian utama: pertama, analisis deskriptif untuk menggambarkan tren, pola musiman, dan volatilitas harga masing-masing komoditas; kedua, analisis ekonometrika menggunakan model Vector Error Correction Model (VECM). Tahapan analisis VECM diawali dengan uji stasioneritas data menggunakan Augmented Dickey-Fuller (ADF), penentuan lag optimal, uji kointegrasi Johansen untuk mengidentifikasi hubungan jangka panjang, dilanjutkan dengan estimasi model VECM. Untuk memperdalam analisis dinamika, penelitian juga menggunakan Impulse Response Function (IRF) untuk melihat respons inflasi terhadap guncangan harga komoditas dan Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) untuk mengukur kontribusi relatif masing-masing komoditas terhadap variasi inflasi.
Berdasarkan analisis deskriptif, kelima komoditas menunjukkan dinamika harga yang berbeda. Harga beras relatif stabil dengan rata-rata Rp11.700/kg namun mengalami tren kenaikan bertahap hingga mencapai puncak Rp15.400/kg pada Maret 2024, dipengaruhi oleh faktor cuaca dan biaya produksi. Sementara itu, komoditas hortikultura, terutama cabai merah dan cabai rawit, mengalami volatilitas yang sangat tinggi dengan lonjakan harga ekstrem (misalnya cabai merah mencapai Rp77.000/kg pada Maret 2024), terutama disebabkan oleh sensitivitas terhadap cuaca, serangan hama, dan ketidakseimbangan pasokan-permintaan. Hasil estimasi VECM mengonfirmasi bahwa fluktuasi harga komoditas pangan strategis berpengaruh signifikan terhadap inflasi di Jawa Timur. Analisis lebih lanjut mengungkap perbedaan urgensi komoditas berdasarkan horizon waktu: dalam jangka pendek, komoditas paling mendesak adalah cabai merah, diikuti oleh cabai rawit dan bawang merah, yang ditunjukkan oleh respons inflasi yang cepat dan fluktuatif terhadap guncangan harga berdasarkan IRF. Dalam jangka panjang, urgensi bergeser kepada bawang merah (dengan kontribusi terhadap variasi inflasi yang terus meningkat berdasarkan FEVD), kemudian beras (sebagai penentu inflasi yang konsisten karena statusnya sebagai makanan pokok), dan cabai merah (yang volatilitasnya membentuk pola struktural yang berpengaruh jangka panjang). Temuan ini memberikan perspektif yang lebih nuanced, di mana pendekatan kebijakan "satu untuk semua" tidak lagi efektif dan diperlukan diferensiasi strategi berdasarkan karakteristik volatilitas dan mekanisme transmisi masing-masing komoditas.
Berdasarkan temuan penelitian, disimpulkan bahwa fluktuasi harga komoditas pangan strategis berpengaruh signifikan terhadap inflasi di Jawa Timur, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, dengan tingkat urgensi komoditas yang berbeda sesuai horizon waktunya. Implikasi kebijakan yang dihasilkan bersifat ganda: dalam jangka pendek, diperlukan respons operasional yang cepat dan tepat melalui penguatan sistem pemantauan harga real-time, optimalisasi operasi pasar berdasarkan pola musiman dan lokasi rawan, koordinasi logistik yang lincah, serta pengawasan ketat terhadap spekulasi dan penimbunan, khususnya untuk komoditas volatil seperti cabai. Untuk jangka panjang, kebijakan harus fokus pada intervensi struktural yang transformatif, meliputi peningkatan produktivitas dan ketahanan produksi melalui investasi teknologi dan infrastruktur irigasi; pengembangan rantai pasok yang lebih efisien, pendek, dan didukung cold chain; diversifikasi konsumsi pangan; serta integrasi perencanaan ketahanan pangan ke dalam kebijakan tata ruang dan fiskal daerah. Sinergi yang kuat antar lembaga pemerintah (TPID), pelaku usaha, dan petani menjadi kunci keberhasilan. Bagi akademisi dan peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan memasukkan variabel lain seperti nilai tukar dan kebijakan perdagangan, serta mengeksplorasi analisis dengan data frekuensi lebih tinggi (harian/mingguan) untuk menangkap dinamika volatilitas jangka sangat pendek.
