Analisis Nilai Tambah Dan Profitabilitas Usaha Kopi Bubuk Robusta (Studi Kasus Pada UMKM Kopi Java di Desa Bocek, Kabupaten Malang)
Abstract
Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian nasional, baik sebagai komoditas ekspor maupun sebagai bahan baku industri pengolahan. Kopi robusta menjadi jenis kopi yang paling dominan dibudidayakan di Indonesia dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui kegiatan pengolahan guna meningkatkan nilai tambah. Seiring meningkatnya konsumsi kopi dan berkembangnya budaya minum kopi di masyarakat, produk olahan kopi seperti kopi bubuk semakin diminati. Kabupaten Malang, khususnya Desa Bocek Kecamatan Karangploso, memiliki potensi besar dalam pengembangan kopi robusta serta keberadaan UMKM pengolahan kopi. Salah satu UMKM tersebut adalah UMKM Kopi Java yang mengolah green bean robusta menjadi kopi bubuk yang berpotensi dikembangkan, namun belum adanya analisis secara mendalam terkait nilai tambah dan profitabilitas. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui besarnya nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan green bean robusta menjadi kopi bubuk robusta di UMKM Kopi Java. 2) Mengetahui besarnya nilai profitabilitas yang dihasilkan usaha pengolahan green bean robusta menjadi kopi bubuk robusta pada UMKM Kopi Java.
Lokasi penelitian ditentukan secara purposive yaitu di UMKM Kopi Java Desa Bocek Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang, responden pada penelitian ini berasal dari pihak perusahaan terutama pemilik perusahaan atau pelaku usaha yang berperan sebagai key informant dan karyawan pada UMKM Kopi Java. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara kepada key informant yaitu pemilik usaha dan karyawan, observasi, diskusi serta laporan perusahaan. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis nilai tambah dengan metode Hayami (1987), dan analisis profitabilitas yang dihitung dengan nilai R/C Ratio, Break Even Point (BEP), Margin Of Safety (MOS) dan Marginal Income Ratio (MIR).
Analisis nilai tambah dengan metode Hayami menunjukkan bahwa bahan baku yang digunakan dalam satu kali proses produksi kopi bubuk robusta adalah 60 kg green bean robusta dan menghasilkan 50 kg kopi bubuk robusta yang dikemas dalam 50 standing pouch berukuran 1 kg. Faktor konversi tersebut menunjukkan bahwa setiap 1 kg pengolahan green bean robusta akan menghasilkan 0,83 kg kopi bubuk robusta. Nilai produk yang dihasilkan pada kopi bubuk robusta adalah sebesar Rp 125.000,00. Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan 1 kg green bean robusta menjadi kopi bubuk robusta adalah sebesar Rp 52.616,67/kg, sedangkan rasio nilai tambah yang diperoleh adalah sebesar 42,1 persen yang menunjukkan bahwa nilai rasio tersebut lebih dari 40 persen dan merupakan nilai tambah dengan kategori tinggi.
Adapun total biaya secara keseluruhan untuk produksi pada usaha kopi bubuk robusta adalah sebesar Rp 112.114.750,59 per bulan produksi. Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh nilai R/C ratio sebesar 1,67 yang menunjukkan bahwa usaha ini layak dan menguntungkan untuk dijalankan. Perhitungan titik impas menunjukkan bahwa pihak pengelola usaha kopi bubuk robusta Kopi Java minimal harus memproduksi kopi bubuk dan menjual habis sebanyak 18,50 bungkus kopi bubuk robusta dengan berat 1 kg per bulan dan pendapatan minimal yang harus diperoleh adalah sebesar Rp 2.775.577,52 per bulan agar perusahaan tidak merugi. Setelah BEP diketahui, maka nilai MIR (Marginal Income Ratio), dan MOS (Margin Of Safety) dapat diketahui. Nilai MIR (Marginal Income Ratio) adalah sebesar 40,79 persen, sedangkan nilai MOS (Margin Of Safety) adalah sebesar 98,52 persen. Tingkat profitabilitas yang diperoleh oleh UMKM Kopi Java adalah sebesar 40,19 persen. Hal ini menunjukkan bahwa apabila usaha tersebut mampu menjual seluruh hasil produksi, maka laba atau profit yang akan diperoleh adalah sebesar 40,19 persen.
Saran dari penelitian ini adalah : 1) Untuk UMKM Kopi Java disarankan agar mempertahankan serta mengoptimalkan kinerja usahanya melalui peningkatan volume penjualan dan menjaga stabilitas produksi. Perusahaan perlu menjaga penjualan agar tetap berada pada tingkat yang aman sehingga usaha tidak mengalami kerugian. Strategi yang dapat dilakukan antara lain memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan promosi produk, menjaga kualitas kopi bubuk robusta, serta melakukan pengendalian biaya produksi secara efisien. Dengan demikian, kemampuan usaha dalam menghasilkan nilai tambah dan laba dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan secara berkelanjutan. 2) Untuk pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih terfokus pada penyediaan sarana produksi (saprodi) pertanian kopi guna menunjang keberlanjutan usaha pengolahan kopi. Dukungan tersebut dapat berupa bantuan pupuk, bibit unggul, serta sarana pendukung budidaya lainnya yang berkualitas dan mudah diakses oleh petani. Ketersediaan saprodi yang memadai akan membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan baku, sehingga mendukung kelancaran proses produksi pada UMKM pengolahan kopi. 3) Pada penelitian ini terdapat keterbatasan, yaitu analisis hanya dilakukan pada pengolahan kopi dari green bean menjadi kopi bubuk. Sedangkan, produk kopi yang dipasarkan ke pasar ekspor berupa green bean yang berasal dari pengolahan red cherry. Sehingga, penelitian selanjutnya disarankan untuk menganalisis nilai tambah dan profitabilitas pada tahapan pengolahan kopi red cherry menjadi green bean.
