Analisis Probabilitas Rumah Tangga Mengonsumsi Daging Sapi Di Indonesia
Abstract
Pemenuhan konsumsi pangan bergizi merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung ketahanan pangan nasional. Salah satu komponen penting dalam pemenuhan gizi masyarakat adalah konsumsi protein hewani, termasuk daging sapi yang memiliki kandungan protein berkualitas tinggi serta berbagai mikronutrien penting bagi kesehatan. Meskipun demikian, tingkat konsumsi daging sapi di Indonesia masih tergolong rendah dan belum merata antar rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan rumah tangga dalam mengonsumsi daging sapi tidak selalu terjadi secara rutin, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial ekonomi dan pola konsumsi pangan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis probabilitas rumah tangga di Indonesia dalam mengonsumsi daging sapi serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumsi tersebut. Penelitian menggunakan data sekunder Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2024 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik dengan jumlah observasi sebanyak 333.998 rumah tangga di seluruh Indonesia. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah keputusan rumah tangga dalam mengonsumsi daging sapi yang dinyatakan dalam bentuk dummy, sedangkan variabel independen meliputi konsumsi daging ayam, telur ayam, ikan, susu, beras, pengeluaran rumah tangga, serta jumlah anggota rumah tangga. Analisis data dilakukan menggunakan model regresi logit biner dengan pendekatan Maximum Likelihood Estimation (MLE) untuk mengestimasi probabilitas rumah tangga dalam mengonsumsi daging sapi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 4,71% rumah tangga di Indonesia yang mengonsumsi daging sapi, sedangkan sekitar 95,29% rumah tangga tidak mengonsumsinya, yang menunjukkan bahwa konsumsi daging sapi masih terbatas pada sebagian kecil rumah tangga. Hasil estimasi model logit menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga berpengaruh positif terhadap probabilitas konsumsi daging sapi, yang berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi rumah tangga maka semakin besar peluang rumah tangga untuk mengonsumsi daging sapi. Selain itu, konsumsi pangan sumber protein hewani lain seperti daging ayam, telur ayam, ikan, dan susu juga berpengaruh positif terhadap probabilitas konsumsi daging sapi karena mencerminkan pola konsumsi pangan yang lebih beragam.
Berdasarkan interpretasi odds ratio, variabel konsumsi susu memiliki odds ratio sebesar 1,5498 dengan interval kepercayaan antara 1,4731 hingga 1,6305. Karena seluruh rentang interval berada di atas angka 1, maka variabel ini signifikan secara statistik dalam memengaruhi probabilitas konsumsi daging sapi. Nilai odds ratio sebesar 1,5498 menunjukkan bahwa rumah tangga yang mengonsumsi susu memiliki peluang sekitar 1,5498 kali lebih besar atau sekitar 54,9% lebih tinggi untuk mengonsumsi daging sapi dibandingkan rumah tangga yang tidak mengonsumsi susu. Sebaliknya, variabel konsumsi beras dan jumlah anggota rumah tangga berpengaruh negatif terhadap probabilitas konsumsi daging sapi. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga yang lebih banyak mengalokasikan konsumsi pada pangan pokok atau memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih besar cenderung memiliki peluang lebih kecil untuk mengonsumsi daging sapi karena keterbatasan anggaran rumah tangga.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa konsumsi daging sapi di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi rumah tangga dan pola konsumsi pangan. Oleh karena itu, upaya peningkatan konsumsi protein hewani perlu mempertimbangkan aspek keterjangkauan harga, peningkatan daya beli masyarakat, serta penguatan kebijakan pangan yang mendukung akses rumah tangga terhadap pangan bergizi. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas konsumsi pangan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
