Analisis Permintaan Kentang Rumah Tangga Di Indonesia
Abstract
Kentang merupakan salah satu Komoditas Hortikultura yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif selain beras. Namun demikian, tingkat konsumsi kentang rumah tangga di Indonesia masih relatif rendah dan mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Permintaan kentang tidak hanya dipengaruhi oleh harga kentang itu sendiri, tetapi juga oleh harga komoditas pangan lain serta karakteristik ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, diperlukan kajian empiris untuk memahami perkembangan permintaan kentang rumah tangga serta faktor-faktor yang memengaruhinya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan permintaan kentang rumah tangga di Indonesia serta menganalisis pengaruh harga kentang, harga komoditas pangan substitusi dan komplementer, pengeluaran rumah tangga, dan jumlah anggota rumah tangga terhadap permintaan kentang rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan yang diambil pada periode tertentu dengan menggunakan metode time series dan cross-section,
Pada metode time series mengunkan data permintaan kentang yang dikonsumsi per-kapita tiap tahunya, selama 10 tahun terakhir Data konsumsi kentang per kapita rumah tangga tahun 2020–2024 menunjukkan fluktuasi dengan tren menurun di akhir periode. Konsumsi meningkat dari 2,547 kg (2020) hingga mencapai puncak 3,167 kg (2022), kemudian menurun menjadi 2,867 kg (2023) dan 2,521 kg (2024).
Pada metode cross-section dengan jumlah data sebesar 341.802 rumah tanggayang di kerucutkan menjadi 1220 rumah tangga. Data tersebut bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2024 serta data pendukung dari Badan Pusat Statistik periode 2020-2024. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda dengan model log-log. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah konsumsi kentang rumah tangga, sedangkan variabel independen meliputi harga kentang, harga beras, harga tepung terigu, harga ketela pohon, harga daging ayam, harga daging sapi, pengeluaran rumah tangga, dan jumlah anggota rumah tangga.
Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa model regresi memenuhi kriteria kelayakan analisis. Data terdistribusi normal, tidak ditemukan gejala multikolinearitas dengan nilai Variance Inflation Factor (VIF) seluruh variabel di bawah 10, serta tidak terdapat indikasi heteroskedastisitas. Dengan demikian, model regresi layak digunakan untuk analisis lebih lanjut. Hasil uji F menunjukkan bahwa seluruh variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap permintaan kentang rumah tangga.
Pada uji t parsial dipengaruhi oleh beberapa variabel ekonomi dan karakteristik rumah tangga. Variabel harga kentang terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan, dengan koefisien sebesar –0,5095 dan tingkat signifikansi 0,000, yang mengindikasikan bahwa setiap kenaikan harga kentang sebesar 1 persen cenderung menurunkan jumlah kentang yang diminta sekitar 0,51 persen. Selain itu, harga beras memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kentang, koefisien harga beras sebesar 0,2344 dan nilai signifikansi 0,003. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan harga beras sebesar 1 persen diperkirakan akan mendorong kenaikan permintaan kentang sekitar 0,23 persen. Variabel harga tepung terigu juga menunjukkan pengaruh yang signifikan namun berarah negatif, dengan koefisien sebesar –0,2122 dan tingkat signifikansi 0,000, yang menandakan adanya hubungan substitusi terhadap konsumsi kentang. Selanjutnya, harga daging sapi berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kentang dengan koefisien sebesar 0,1272 dan nilai signifikansi 0,004. Di sisi lain, variabel pengeluaran rumah tangga dan jumlah anggota rumah tangga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kentang, masing-masing ditunjukkan oleh koefisien sebesar 0,3130 dan 0,1583 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sementara itu, variabel harga ketela pohon dan harga daging ayam tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap permintaan kentang rumah tangga, yang tercermin dari nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,314 dan 0,339.
