Analisis Agroindustri Jamu Tradisional (Studi Kasus Pada Sinom “Mbak Rakes” Di Desa Wandanpuro Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang)
Abstract
Sektor pertanian berperan penting dalam perekonomian Indonesia dan berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto nasional, sehingga mendorong pengembangan agroindustri sebagai upaya peningkatan nilai tambah hasil pertanian. Salah satu agroindustri yang berkembang adalah jamu tradisional, yang memanfaatkan kekayaan tanaman obat Indonesia dan memiliki peluang besar seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Agroindustri jamu tradisional Sinom “Mbak Rakes” di Desa Wandanpuro, Kabupaten Malang, merupakan usaha skala rumah tangga yang berpotensi dikembangkan, namun belum dianalisis secara mendalam terkait nilai tambah, kelayakan usaha, dan saluran pemasaran. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Menganalisis besarnya nilai tambah yang diperoleh Sinom “Mbak Rakes”. 2) Menganalisis Kelayakan Usaha. 3) Mengetahui saluran pemasaran yang digunakan.
Penelitian ini dilaksanakan di Agroindustri “Mbak Rakes” Di Desa Wandanpuro Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang, pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) karena agroindustri ini merupakan usaha rumah tangga yang sudah memiliki izin usaha sertifikasi Halal MUI dan BPOM, dan berperan dalam pemanfaatan sumber daya lokal bernilai ekonomi. Responden pada penelitian ini yaitu pemilik agroindustri yang berperan sebagai key informant. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis nilai tambah dengan metode Hayami (1987), analisis biaya, analisis penerimaan dan keuntungan serta analisis kelayakan usaha mengunakan R/C Ratio.
Analisis nilai tambah dengan metode Hayami menunjukkan bahwa bahan baku yang digunakan dalam satu kali proses produksi jamu sinom adalah 3 kg daun sinom dan menghasilkan 25 dus jamu sinom berisi 24 cup berukuran 120 ml. Faktor konversi tersebut menunjukkan bahwa setiap 1 kg pengolahan daun sinom akan menghasilkan 8,33 dus jamu sinom berisi 200 cup ukuran 120 ml. Nilai produk yang dihasilkan pada pembuatan jamu sinom adalah Rp. 250.000,-. Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan 1 kg daun sinom menjadi jamu sinom adalah sebesar Rp. 101.466,40/kg, sedangkan rasio nilai tambah yang diperoleh adalah sebesar 40,6% yang menunjukkan bahwa nilai rasio tersebut lebih dari 40% dan merupakan kategori tinggi.
Berdasarkan hasil analisis biaya, total biaya yang dikeluarkan pada proses produksi pengolahan jamu Sinom “Mbak Rakes” sebesar Rp. 585.010,35,- dalam satu kali produksi. Total penerimaan yang didapatkan sebesar Rp. 750.000,- sehingga keuntungan yang diterima pada proses pengolahan jamu Sinom “Mbak Rakes” sebesar Rp. 164.989,65,- dalam satu kali proses produksi. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha, diperoleh hasil R/C Ratio sebesar 1,28 dimana R/C Ratio > 1 sehingga usaha pegolahan jamu Sinom “Mbak Rakes” menguntungkan dan layak untuk terus dijalankan.
Pemasaran produk jamu Sinom “Mbak Rakes” pada saat ini dilakukan melalui lebih dari satu saluran pemasaran. Terdapat 2 saluran pemasaran pada produk jamu Sinom “Mbak Rakes” antara lain : 1) Saluran pemasaran I : Produsen Konsumen. 2) Saluran pemasaran II : Produsen Pengecer Konsumen. Saluran pemasaran I merupakan saluran tingkat nol karena produsen menjual produk secara langsung kepada konsumen. Saluran pemasaran II merupakan saluran tingkat satu yang melibatkan pengecer sebagai perantara. Pengecer membeli produk dalam jumlah besar dan menjualnya kembali secara eceran kepada konsumen lokal, dengan pengecer yang terlibat antara lain Warung Bakso Mak Tres, Warung Soto Dok Lamongan, dan Warung Bakso Morojoyo.
Pengembangan agroindustri Jamu Sinom “Mbak Rakes” masih menghadapi kendala pada aspek bahan baku, produksi, dan pemasaran. Pada bahan baku, pasokan belum konsisten meskipun kualitas sesuai standar, sehingga pemilik usaha mengantisipasi dengan mengambil bahan baku dari beberapa pasar di Kota dan Kabupaten Malang. Pada proses produksi, kendala terjadi pada tahap pengemasan akibat keterbatasan keterampilan tenaga kerja dalam mengoperasikan sealer dan lid cup, yang berdampak pada kerapian kemasan. Sementara itu, pada aspek pemasaran, produk masih dipasarkan secara lokal karena keterbatasan pengetahuan pemasaran dan tingginya biaya pengiriman, sehingga pemilik usaha memilih bekerja sama dengan pengecer untuk menjangkau konsumen. Saran dari penelitian ini adalah : 1) Untuk agroindustri disarankan mempertahankan dan mengoptimalkan efisiensi pengolahan bahan baku daun sinom karena terbukti menghasilkan nilai tambah yang tinggi, sehingga nilai tambah per kilogram bahan baku tetap terjaga meskipun terjadi perubahan harga input. 2) Untuk agroindustri disarankan mempertahankan efisiensi biaya produksi karena nilai R/C Ratio sebesar 1,28 menunjukkan usaha jamu sinom telah menguntungkan dan layak dijalankan, serta mempertimbangkan peningkatan produksi secara bertahap dengan tetap mengendalikan biaya agar kelayakan usaha tetap terjaga. 3) Agroindustri disarankan memperluas jaringan pemasaran hingga ke ritel modern guna meningkatkan jangkauan dan daya saing produk. Dukungan pemerintah melalui pelatihan manajemen dan pemanfaatan teknologi promosi juga diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme dan akses pasar. 4) Penelitian ini terbatas pada identifikasi saluran pemasaran tanpa menganalisis tingkat efisiensinya. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan melakukan analisis efisiensi pemasaran untuk menentukan saluran yang paling menguntungkan dan berkelanjutan.
