Analisis Probabilitas Diversifikasi Konsumsi Pangan Karbohidrat Rumah Tangga Di Indonesia
Abstract
ketahanan pangan merupakan isu strategis nasional yang tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga pemanfaatan dan pola konsumsi pangan masyarakat. Di Indonesia, pola konsumsi pangan rumah tangga masih sangat didominasi oleh beras sebagai sumber karbohidrat utama. Ketergantungan yang tinggi terhadap beras berpotensi menimbulkan kerawanan pangan, terutama ketika produksi domestik tidak mampu mengimbangi kebutuhan konsumsi. Padahal Indonesia memiliki potensi sumber karbohidrat lain seperti jagung, umbi-umbian, gandum, dan sagu yang tersebar di berbagai wilayah. Diversifikasi konsumsi pangan menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kualitas gizi masyarakat. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya masih mengukur diversifikasi pangan secara deskriptif atau menggunakan indeks kategorikal, serta belum menganalisis probabilitas rumah tangga dalam mencapai tingkat diversifikasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga di Indonesia menggunakan Food Diversification Index (FDI) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi probabilitas rumah tangga melakukan diversifikasi konsumsi pangan dengan pendekatan model regresi Tobit berbasis data nasional.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2024. Jumlah observasi yang digunakan dalam analisis adalah 246.256 rumah tangga yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mencakup daerah perkotaan dan perdesaan. Tingkat diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga diukur menggunakan Food Diversification Index (FDI) yang diadaptasi dari Berry Index, dengan rentang nilai 0–1. FDI dihitung berdasarkan proporsi pengeluaran rumah tangga pada kelompok pangan sumber karbohidrat, meliputi beras, jagung, umbi-umbian, gandum, sagu, dan produk olahan berbasis karbohidrat. Nilai FDI kemudian diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu FDI rendah (<0,30), sedang (0,30–0,60), dan tinggi (>0,60). Untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi diversifikasi konsumsi pangan, digunakan model regresi Tobit karena variabel dependen (FDI) bersifat tersensor. Variabel independen yang digunakan meliputi proporsi konsumsi beras (X1), pengeluaran pangan total per bulan (X2), jumlah anggota keluarga (X3), dan wilayah tempat tinggal (X4: desa/kota). Estimasi dilakukan dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) menggunakan perangkat lunak Stata.
Hasil perhitungan Food Diversification Index menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga di Indonesia masih berada pada tingkat diversifikasi konsumsi pangan yang rendah. Dari total 246.256 rumah tangga, sebanyak 127.041 rumah tangga (51,59%) termasuk dalam kategori FDI rendah, 107.900 rumah tangga (43,82%) berada pada kategori FDI sedang, dan hanya sebagian kecil yang mencapai kategori FDI tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi pangan rumah tangga masih sangat terpusat pada satu jenis pangan utama, khususnya beras. Hasil estimasi model Tobit menunjukkan bahwa secara simultan variabel proporsi konsumsi beras, pengeluaran pangan total, jumlah anggota keluarga, dan wilayah berpengaruh signifikan terhadap tingkat diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga. Secara parsial, proporsi konsumsi beras berpengaruh negatif terhadap FDI, yang berarti semakin besar ketergantungan rumah tangga terhadap beras maka semakin rendah tingkat diversifikasi konsumsi pangannya. Sebaliknya, pengeluaran pangan total berpengaruh positif terhadap FDI, menunjukkan bahwa peningkatan daya beli rumah tangga mendorong konsumsi pangan yang lebih beragam. Variabel jumlah anggota keluarga menunjukkan pengaruh negatif terhadap diversifikasi konsumsi pangan, yang mengindikasikan bahwa semakin besar ukuran rumah tangga, semakin sulit bagi rumah tangga untuk mendiversifikasi konsumsi pangannya. Sementara itu, wilayah tempat tinggal berpengaruh positif, di mana rumah tangga yang tinggal di perkotaan cenderung memiliki tingkat diversifikasi konsumsi pangan yang lebih tinggi dibandingkan rumah tangga di perdesaan. Hasil ini sejalan dengan teori Engel dan Bennett serta penelitian-penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa peningkatan kesejahteraan dan akses pasar berperan penting dalam mendorong diversifikasi konsumsi pangan.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga di Indonesia masih tergolong rendah, dengan lebih dari separuh rumah tangga berada pada kategori FDI rendah. Faktor-faktor yang memengaruhi probabilitas rumah tangga dalam melakukan diversifikasi konsumsi pangan meliputi proporsi konsumsi beras, pengeluaran pangan total, jumlah anggota keluarga, dan wilayah tempat tinggal. Ketergantungan yang tinggi terhadap beras menjadi penghambat utama diversifikasi konsumsi pangan, sementara peningkatan pengeluaran pangan dan akses wilayah perkotaan mendorong pola konsumsi yang lebih beragam.
Pemerintah perlu memperkuat kebijakan diversifikasi pangan dengan mendorong konsumsi sumber karbohidrat lokal non-beras melalui edukasi gizi, inovasi produk pangan lokal, dan peningkatan akses pasar, khususnya di wilayah perdesaan. Selain itu, peningkatan daya beli rumah tangga melalui kebijakan ekonomi dan perlindungan sosial juga penting untuk mendorong diversifikasi konsumsi pangan. Bagi penelitian selanjutnya, disarankan untuk memasukkan variabel sosial budaya dan preferensi konsumsi serta menggunakan pendekatan longitudinal agar dinamika diversifikasi konsumsi pangan dapat dianalisis secara lebih mendalam.
