Analisis Permintaan Cabai Merah Rumah Tangga Di Indonesia
Abstract
Pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) menjadi fokus utama dalam arah kebijakan pembangunan di Indonesia yang selaras dengan komitmen global Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu prioritas SDGs adalah tujuan ke-2, Zero Hunger. Pemerintah Indonesia juga menegaskan komitmen ini melalui Asta Cita ke-2, yaitu mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Cabai merah merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan termasuk dalam Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2022. Konsumsi cabai merah di Indonesia digunakan luas sebagai bumbu utama dalam konsumsi rumah tangga. Namun, harga cabai mengalami fluktuasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum karakteristik serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan rumah tangga terhadap cabai merah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif statistik dan regresi logaritmik. Penelitian dilaksanakan di Indonesia dengan menggunakan data sekunder SUSESNAS yang diterbitkan oleh BPS dari periode pengambilan data September-November 2024. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified two stage sampling yang dilaksanakan oleh BPS, yaitu pengelompokan wilayah perkotaan dan perdesaan pada tahap pertama, kemudian pemilihan blok sensus dan rumah tangga secara acak pada tahap kedua. Metode ini bertujuan untuk menjamin keterwakilan rumah tangga secara nasional. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 341.803 rumah tangga. Model yang digunakan adalah regresi logaritma ganda (double log model) digunakan karna mampu menginterpretasikan koefisien regresi secara langsung sebagai pengaruh masing-masing faktor dalam menjelaskan permintaan rumah tangga di Indonesia. Variabel dependen adalah konsumsi cabai merah, sedangkan variabel independen meliputi harga cabai merah, harga komoditas pangan strategis (harga beras, harga jagung, harga kedelai, harga bawang merah, harga daging ayam, harga telur, harga daging sapi, harga gula pasir, harga minyak goreng, harga ikan), pendapatan, dan jumlah anggota keluarga. Seluruh proses analisis data dilaksanakan dengan menggunakan software R Studio yang meliputi tahap persiapan dan pembersihan data, analisis deskriptif statistik, transformasi bentuk logaritma natural, estimasi model regresi logaritma ganda (double log model), serta pengujian kelayakan model melalui uji F, pengujian koefisien determinasi (R²), dan pengujian signifikansi parsial menggunakan uji t.
Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan konsumsi cabai merah rumah tangga di Indonesia menunjukkan variasi yang cukup besar. Rata-rata konsumsi tercatat sebesar 0,64 kg per kapita per bulan, dengan kisaran 0,01–10,25 kg. Variasi ini mencerminkan perbedaan preferensi, kebiasaan memasak, dan kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Cabai merah berperan penting sebagai bumbu utama masakan sehingga konsumsinya relatif dipertahankan.Secara wilayah, konsumsi cabai merah rumah tangga perkotaan (0,30 kg) lebih tinggi dibandingkan perdesaan (0,26 kg). Namun, pada kelompok pendapatan rendah, konsumsi di perdesaan lebih tinggi, sedangkan pada pendapatan tinggi konsumsi lebih besar di perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa cabai merah merupakan kebutuhan bumbu esensial bagi rumah tangga perdesaan, sementara peningkatan pendapatan mendorong konsumsi yang lebih tinggi di wilayah perkotaan.
Faktor-faktor yang memengaruhi permintaan cabai merah rumah tangga di Indonesia dianalisis menggunakan model regresi logaritma ganda (double log model). Berdasarkan hasil Uji F, diperoleh nilai F-hitung sebesar 54,488 dengan nilai signifikansi p-value 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa seluruh variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap permintaan cabai merah. Hasil Uji R² menunjukkan nilai koefisien determinasi sebesar 0,6745, yang berarti 67,45% variasi permintaan cabai merah dapat dijelaskan oleh variabel harga cabai merah, harga komoditas pangan strategis lain, serta variabel sosial ekonomi rumah tangga. Sementara itu, 32,55% variasi permintaan dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Secara parsial, hasil Uji t menunjukkan bahwa harga cabai merah berpengaruh negatif dan sangat signifikan terhadap permintaan cabai merah. Hubungan substitusi ditunjukkan oleh komoditas yang memiliki koefisien positif dan signifikan, yaitu beras, bawang merah, daging ayam, dan minyak goreng. Hubungan komplementer ditunjukkan oleh komoditas dengan koefisien negatif dan signifikan, yaitu jagung, kedelai, daging sapi, dan gula. Sementara telur dan ikan memiliki koefisien yang tidak signifikan secara statistik. Dari sisi faktor sosial ekonomi, pendapatan dan jumlah anggota keluarga berpengaruh positif dan sangat signifikan.
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang dapat disampaikan antara lain: petani dan pelaku agribisnis diharapkan mengoptimalkan produksi cabai merah melalui penerapan teknologi smart farming serta pengembangan pengolahan pascapanen untuk meningkatkan efisiensi, nilai tambah, dan stabilitas pasokan. Rumah tangga diharapkan dapat menyesuaikan pola konsumsi secara lebih efisien dengan mempertimbangkan perubahan harga dan keterkaitan antar komoditas pangan. Pemerintah perlu mempertahankan dan memperkuat kebijakan stabilisasi harga komoditas pangan strategis melalui pengelolaan Cadangan Pangan Pokok secara terkoordinasi guna menekan volatilitas harga dan menjaga keterjangkauan pangan. Selanjutnya, penelitian mendatang disarankan untuk menyempurnakan spesifikasi variabel, khususnya dalam pemilihan komoditas substitusi dan komplementer, agar analisis perilaku konsumsi cabai merah rumah tangga di Indonesia dapat direpresentasikan secara lebih akurat.
