Analisis Permintaan Beras Pada Rumah Tangga Di Provinsi Jawa Timur
Abstract
Tingkat konsumsi dan permintaan beras yang cukup tinggi merupakan salah satu pemicu susahnya akses bahan pangan beras di Indonesia. Tingginya konsumsi beras di Indonesia menyebabkan permintaan beras meningkat setiap tahunnya, sehingga produksi padi harus terus optimal untuk mencukupi permintaan beras di Indonesia. Hal ini juga sebanding dengan pertumbuhan penduduk yang ada di Indonesia yang meningkat setiap tahunnya. Salah satu provinsi yang memiliki jumlah penduduk tingi yakni provinsi Jawa Timur yakni berjumlah 41 416 407 jiwa dan memiliki kepadatan penduduk sejumlah 857 jiwa/km2, dengan kondisi tersebut permintaan bahan pangan untuk provinsi Jawa timur juga tinggi. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pola konsumsi permintaan beras di Provinsi Jawa Timur dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan beras rumah tangga.
Penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Timur, pada bulan November-Desember 2023. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS 2022). Metode analisis data menggunakan pendekatan fungsi Cobb-Douglass. Data SUSENAS adalah data cross section yang berasal dari Pusat Mikrodata Badan Pusat Statistik (BPS), yang mencakup informasi mengenai konsumsi dan pengeluaran pangan rumah tangga. Adapun teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratified two stage sampling. Two Stage Sampling merupakan metode yang paling sederhana, salah satu metode yang termasuk dalam Two Stage Sampling adalah Metode Penarikan Sampel Bergerombol Dua Tahap (Two Stage Cluster Sampling). Penelitin ini mengambil sampel sebanyak 32.245 rumah tangga dengan rumah tangga yang mengkonsumsi beras sebanyak 25.024.
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian mengenai pola konsumsi rumah tangga terkait kebutuhan pangan beras di Jawa Timur mendapatkan hasil yakni rata rata pendapatan rumah tangga sebesar Rp. 3.516.974 per kapita sebulan, dengan tingkat presentase konsumsi beras sebasar 77,13%. Namun tepung terigu juga menunjukan konsumsi yang terbilang lumayan banyak dengan persentase sebesar 36,10% sehingga berada pada urutan kedua setelah beras dalam banyaknya konsumsi pangan rumah tangga.
Adapun model permintaan pangan rumah tangga terhadap beras di Jawa Timur sebagai berikut :
lnY = -16,674 – 0,088 X1 – 0,646 X2 + 1,518 X3 – 1,277 X4 + 0,147 X5 + 1,503 X6 + 1,501 X7 – 0,378 X8 + 0,229 X9 – 0,048 X10 + 0,006 X11 + e
Diketahui nilai (R-Square) sebesar 0,966 atau setara dengan 96,6%. Dari presentase tersebut dapat diartikan bahwa 96,6% variabel terikat (konsumsi beras) dapat dijelaskan oleh variabel bebas (harga beras, harga beras ketan, harga jagung pipilan, harga terigu, harga singkong, harga ubi jalar, harga talas, harga kentang, harga gaplek, pendapatan, dan jumlah anggota rumah tangga). Sedangkan sisanya 3,4% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak ada dalam penelitian ini. Adapun itu nilai F hitung 348,485 > F tabel 1,86 dan signifikansi F 0,000 < α 0,05 yang artinya secara serempak variabel bebas (harga beras, harga beras ketan, harga jagung pipilan, harga terigu, harga singkong, harga ubi jalar, harga talas, harga kentang, harga gaplek, pendapatan, dan jumlah anggota rumah tangga) berpengaruh terhadap variabel terikat (konsumsi beras).
Dalam hasil analisis menunjukan beberapa variabel yang signifikan salah satunya variabel harga beras. Berdasarkan dari hasil analisis didapatkan nilai B Koefisien Regresi variabel harga beras sebesar -0,088, artinya nilai tersebut menunjukkan pengaruh negatif (berlawanan arah) antara variabel harga beras dan permintaan beras. Dapat diartikan jika harga beras mengalami kenaikan satu persen maka permintaan penduduk terhadap beras akan mengalami penurunan sebesar 0,088% dengan asumsi bahwa variabel lainnya dianggap konstan. dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan. Hal ini sebanding dengan hukum permintaan yang menyatakan bahwa semakin tinggi harga suatu barang, maka semakin rendah jumlah barang yang diminta, dan sebaliknya, semakin rendah harga suatu barang, maka semakin tinggi jumlah barang yang diminta.
Variabel lain yang menunjukan signifikan selanjutnya adalah harga jagung , harga terigu, harga ubi jalar, harga talas. Variabel-variabel tersebut menunjukan hasil analisis bahwa nilai t hitung < t tabel 1,645 dan nilai signifikansi t < 0,05 dengan demikian H0 ditolak ; H1 diterima yang berarti bahwa secara parsial variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat (konsumsi beras) dengan tingkat signifikansi pada α 1%, artinya empat variabel tersebut berpengaruh terhadap permintaan beras. Sehingga penduduk Jawa Timur dapat memanfaatkannya untuk pangan pokok pengganti beras.
Selanjutnya variabel pendapartan rumah tangga secara parsial berpengaruh terhadap permintaan konsumsi beras. Variabel pendapatan rumah tangga memiliki nilai t hitung -2,315 < t tabel 1,96 dan nilai signifikansi sebesar 0,022 < 0,05. Adapun nilai nilai B Koefisien Regresi variabel pendapatan sebesar -0,048. Dapat diartikan jika harga beras mengalami kenaikan satu persen maka pola konsumsi penduduk terhadap beras akan mengalami penurunan sebesar 0,048% dengan asumsi bahwa variabel lainnya dianggap konstan. Hal ini sebanding dengan indikator kesejahteraan penduduk yaitu jika seseorang memiliki pendapatan yang cukup tinggi, maka pendapatan tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti membeli barang-barang non-pangan, karena kebutuhan pangannya yang sudah dianggap terpenuhi.
Dalam pembahasan pola konsumsi pangan rumah tangga, saran yang dapat peneliti berikan yaitu penduduk mungkin dapat memanfaatkan sumber karbohidrat lain untuk dikonsumsi sehari-hari sebagai bahan pangan pokok seperti komoditas umbi umbian yang kaya akan karbohidrat yang bisa dijadikan bahan pangan alternatif pengganti beras. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi bahan pangan lokal yang kaya akan karbohidrat dan bisa dijadikan alternatif pengganti beras, selain itu bertujuan agar tingkat pola konsumsi di Jawa Timur beraneka ragam komoditas.
